Pandangan Rasulullah saw Mengenai Kehidupan Dunia

Segala puji hanyalah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa hidayah dan dien yang hak. Shalawat dan salam semoga tercurah atas pemimpin para rasul, yang diutus sebagai rahmat sekalian alam..
Mayoritas kaum muslimin pada hari ini terjebak di antara dua sikap yang kontradiktif dalam terhadap Rasulullah . Ada yang bersikap berlebih-lebihan terha-dap Rasulullah hingga terseret ke dalam perbuatan syirik, seperti memohon kepada beliau atau beristigha-tsah kepadanya. Dan ada pula yang memandang remeh kedudukan beliau selaku utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala, pada akhirnya ia berani melanggar petunjuk beliau, tidak meneladani sirah (peri kehidupan) beliau, dan tidak pula menjadikannya sebagai pelita kehidupan dan rambu perjalanan.
Kehidupan Rasulullah adalah kehidupan yang penuh teladan bagi umat, acuan dakwah sekaligus sebagai pedoman hidup. Beliau adalah teladan dalam ketaatan, dalam beribadah dan berakhlak yang mulia. Teladan dalam bermuamalah yang baik dan dalam menjaga kehormatan dan kemuliaan. Cukuplah pujian Allah atas beliau sebagai buktinya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam 4)
Ahlus Sunnah wal Jamaah menempatkan Rasulullah pada kedudukan yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada beliau, yaitu sebagai hamba Allah dan Rasul-Nya. Ahlus Sunnah Wal Jamaah tidaklah berlebih-lebihan dalam menyanjung Rasulullah. Kedudukan yang telah diberi-kan Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah cukup untuk menunjukkan ketinggian derajat beliau. Kita, sebagai Ahlu Sunnah, wajib berjalan di atas prinsip tersebut, kita tidak boleh mengada-adakan perbuatan bid’ah.

“Ikutilah! Dan jangan berbuat bid’ah. Sungguh kalian telah dicukupkan. Dan sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah sesat.” (Shahih, HR. Ad-Darimi 1/69).

Secara ringkas, semua keterangan di atas yang menunjukkan betapa buruknya bid’ah. Kami simpulkan dalam beberapa hal berikut ini, yang kami nukil dari sebagian tulisan Asy-Syaikh Salim Al-Hilali :

Cukuplah semua akibat buruk yang dialami pelaku bid’ah itu sebagai kejelekan di dunia dan akhirat, yakni:

1. Amalan mereka tertolak, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Barangsiapa yang membuat-buat sesuatu yang baru dalam urusan (agama) kami yang bukan berasal daripadanya, maka semua itu tertolak.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha)

2. Terhalangnya taubat mereka selama masih terus melakukan kebid’ahan itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Allah menghalangi taubat setiap pelaku bid’ah sampai dia meninggalkan bid’ahnya.” (HR. Ibnu Abi Ashim dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam As Shahihah no. 1620 dan As Sunnah Ibnu Abi Ashim hal. 21)

3. Pelaku bid’ah akan mendapat laknat karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang berbuat bid’ah, atau melindungi kebid’ahan, maka dia akan mendapat laknat dari Allah, para malaikat dan seluruh manusia.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu).

Namun manifestasi cinta kita kepada beliau ialah dengan mentaati perintah beliau, menjauhkan diri dari segala yang dilarang dan dibencinya. Dalam sebuah syair dituturkan:
Yang harus kita maklumi, beliau hanyalah seorang manusia biasa.
Disamping beliau adalah hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terbaik.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengistimewakan beliau dengan stem-pel putih kenabian.
Bagaikan cahaya yang terang bersinar.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyertakan nama beliau dengan asma-Nya.
Saat muazzin mengumandangkan azan lima kali sehari semalam dengan bersyahadat.
Hingga nama beliau dipetik dari nama-Nya sebagai penghormatan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala, pemilik ‘Arsy adalah Yang Maha Terpuji,
Sementara beliau adalah yang terpuji.


Meskipun kita tidak sempat menyaksikan beliau secara langsung di dunia, karena terpisah ruang dan waktu, namun kita tidak akan bosan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semoga kita termasuk orang-orang yang disebutkan Rasulullah dalam sabdanya: “Betapa ingin aku bertemu dengan saudara-saudaraku!” Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, bukankah kami ini saudara-saudaramu?” Rasulullah menjawab: “Kamu sekalian adalah sahabat-sahabatku, saudara-saudaraku adalah generasi yang belum lagi muncul.” “Wahai Rasu-lullah, bagaimanakah engkau dapat mengenali suatu generasi dari umatmu yang belum lagi muncul?” tanya sahabat. Beliau menjawab: “Bagaimanakah menurutmu, bila seseorang memiliki seekor kuda yang putih kepala dan kakinya di antara kuda-kuda yang hitam legam, bukankah dia dapat mengenali kudanya?” “Tentu saja wahai Rasulullah!” jawab mereka. “Sungguh, mereka akan datang dengan warna putih bercahaya pada wajah dan tubuh mereka disebabkan air wudhu’. Dan akulah yang akan mendahului mereka tiba di telaga (Al-Kautsar)!” jawab beliau.” (HR. Muslim)
Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semoga kita semua tergolong orang-orang yang mengikuti jejak beliau dan meneladani kehidupan beliau serta mena-paki sunnahnya. Saya juga memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semoga Dia Subhanahu wa Ta’ala mengumpulkan kita bersama beliau di Surga ‘Aden. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan pahala yang sempurna bagi beliau sebagai balasan atas seluruh yang telah beliau persembahkan. Shalawat dan salam semoga tercurah atas beliau, segenap keluarga serta sahabat.

Wahai saudaraku seiman, tujuan kita membuka lembaran masa silam bukanlah hanya untuk menikmati atau melihat-lihat kisah-kisah yang sudah berlalu. Namun tujuan kita yang hakiki adalah menjadikannya sebagai wasilah untuk beribadah kepada Allah . Dengan membaca sirah (sejarah hidup) Nabi diharapkan kita dapat mengikuti sunnah beliau dan berjalan di atas manhaj (pedoman) beliau. Sebagai bentuk ketaatan kita kepada perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu kewajiban mencintai Rasulullah . Di antara tanda-tanda kecintaan kepada Rasulullah ialah mentaati perintah beliau dan menjauhi segala yang dilarang dan dibencinya. Serta menjadikan beliau sebagai teladan dan panutan.
Mengenai hal itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengam-pun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran 31)
Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab 21)

Rasulullah sendiri menegaskan bahwa mencin-tai beliau termasuk salah satu sebab mendapatkan manisnya iman. Beliau bersabda: “Ada tiga perkara, bila terkumpul pada diri seseorang, ia pasti
mendapatkan manisnya iman; Hendaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya …”
(Muttafaq ‘alaih)
Dalam hadits lain beliau bersabda: “Demi Dzat Yang jiwaku berada di Tangan-Nya, Tidak akan sempurna keimanan seseorang hingga ia menjadikan aku yang lebih dicintainya daripada orangtua dan anak-anaknya sendiri.” (HR. Mus-lim)
Sirah Rasulullah adalah sirah yang sangat menakjubkan. Banyak sekali pelajaran yang dapat kita petik dan petunjuk yang dapat kita teladani darinya.
Perjalanan Yang Menyenangkan
Perjalanan menuju rumah Rasulullah untuk melihat selukbeluk kehidupan dan tata krama pergaulan beliau merupakan perjalanan yang sangat diidamkan setiap orang. Terlebih lagi bila diniatkan untuk menggapai pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebuah perjalanan yang sarat ibrah dan pelajaran, penuh teladan dan panutan. Yaitu perjalanan melalui kitab-kitab dan riwayat-riwayat dari lisan para sahabat . Sebab, kita tidak dibolehkan melakukan perjalanan ke makam atau rumah beliau atau ke tempat-tempat lainnya selain ke tiga masjid, sebagaimana yang disebutkan Rasulullah dalam hadits: “Janganlah mengadakan perjalanan (secara khu-sus) kecuali ke tiga masjid, Masjidil Haram, Mas-jidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsha.” (Muttafaq ‘alaih)
Kita wajib mentaati perintah Rasulullah dengan tidak mengadakan perjalanan secara khusus kecuali ke tiga masjid tersebut. Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengatakan:
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka teri-malah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (Al-Hasyr: 7)
Kita tidak boleh melakukan kunjungan ke tempat-tempat bersejarah peninggalan Rasulullah , Ibnu Wadhdhah rahimahullah berkata: “Umar radhiyallaahu anhu telah memerintahkan untuk menebang pohon tempat Rasulullah di bai’at, sebab orang-orang banyak mengunjungi pohon tersebut untuk shalat di sana. Umar radhiyallaahu anhu khawatir mereka terfitnah (tersesat jatuh ke dalam dosa syirik).” (Kisah tersebut dapat dilihat dalam Shahih Bukhari dan Muslim).
Ibnu Taimiyah rahimahullah memberikan komentar mengenai kunjungan ke gua Hira’: “Sebelum diangkat menjadi rasul, beliau sering menyendiri untuk beribadah di sana. Dan di sanalah pertama sekali wahyu diturunkan kepada beliau. Akan tetapi setelah itu beliau tidak pernah sama sekali mengunjunginya bahkan tidak pernah mendekatinya. Demikian pula sahabat-sahabat beliau.
Beliau menetap di kota Makkah selama lebih kurang sepuluh tahun, namun tidak pernah sekalipun beliau mengunjunginya lagi atau mendaki ke atasnya. Demikian pula kaum mu’minin yang menetap bersama beliau di kota Makkah. Setelah beliau berhijrah ke Madinah, beliau berkali-kali memasuki kota Makkah, seperti pada saat menunaikan Umrah Hudaibiyah, saat penaklukan kota Makkah, dimana beliau berdiam selama dua puluh hari di sana, pada saat menunaikan Umrah Ji’ranah, namun beliau tidak pernah mendatangi gua Hira’ atau mengunjunginya…..” (Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah XXVII / hal 251).

Sekarang kita akan mengunjungi Kota Al-Madinah An-Nabawiyyah, bangunannya mulai terlihat di hadapan kita. Itulah gunung Uhud, yang dikatakan Rasulullah : “Gunung ini mencintai kami dan kami pun mencintainya” (Muttafaq ‘alaih)
Sebelum memasuki kediaman Rasulullah , marilah kita lihat sejenak bentuk bangunannya. Janganlah terperanjat bila kita hanya menyaksikan sebuah bangunan kecil dengan tempat tidur yang sangat sederhana. Sebab Rasulullah adalah seorang yang sangat zuhud terhadap dunia. Beliau tidaklah menolehkan pandangan kepada kemewahan dan gemerlap harta benda dunia. Namun yang menjadi penyejuk mata hati beliau hanyalah ibadah shalat. (Sebagaimana yang disebutkan dalam HR. An-Nasaai)

 

Beliau berkomentar tentang dunia sebagai berikut: “Apa artinya dunia bagiku! Kehadiranku di dunia hanyalah bagaikan seorang pengelana yang tengah berjalan di panas terik matahari, lalu berteduh di bawah naungan pohon beberapa saat, kemudian segera meninggalkannya untuk kembali melanjutkan perjalanan.” (HR. At-Tirmidzi)
Sekarang kita sedang berjalan menuju kediaman beliau seraya mengayunkan langkah di jalan-jalan kota Madinah. Itulah kamar-kamar istri beliau mulai tampak. Kamar sederhana yang dibangun dari pelepah kurma dan polesan tanah, sebagian lagi dengan batu yang ditata sedemikian rupa, sementara bagian atasnya dipayungi dengan atap dari pelepah kurma.

Al-Hasan mengisahkan kepada kita: “Aku pernah masuk ke dalam rumah-rumah istri Rasulullah pada masa khilafah Utsman bin ‘Affan radhiallaahu anhu. Langit-langit rumah tersebut dapat aku jangkau dengan tanganku.” (Lihat Ath-Thabaqat Al-Kubra karangan Ibnu Sa’ad I/hal 499 & 501, lihat juga kitab As-Sirah An-Nabawiyyah II/hal 274 karangan Ibnu Katsir)
Sungguh kediaman beliau adalah rumah yang sangat sederhana dengan beberapa kamar yang kecil. Akan tetapi penuh dengan cahaya keimanan dan ketaatan, sarat dengan wahyu dan risalah ilahi..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: