Ibu…

Menjadi ibu..
Adalah mimpi2 yg dilatih dgn kerinduan dan cinta. Seruak cita itu adlh fithrah paling indah yg dikaruniakan Allah. Kecenderungan, rasa, kemuliaan..! Ibu.. atau apapun kita memanggilnya, mulia dgn telapak kaki perjuangan. Karena tak seorang pria pun, memiliki kedudukan ini: surga di telapak kaki. Tak satu pria pun. Demi Allah, tak satu pria pun..

Ibu..
Panggilan yg begitu menggetarkan, membiruharu, menggemakan rasa terdalam d’diri setiap wanita.. Slalu dan snantiasa, ada nuansa, cita, imaji, dan gairah stiap kali kata plus dua titik itu diteriakkan oleh sosok2 mungil yg menyambut kehadirannya..

Ibu..
Ini kata ttg penegasan madrasah agung. Tempat mempertanyakan semesta dgn bahasa paling akrab, harapan paling memuncak, dan keingintahuan paling dalam. Dermaga pengaduan paling luas saat mereka teraniaya, belai paling menentramkan saat mereka merasa gelisah, dan dekapan paling aman saat mereka merasa takut.

Ibu..
Perpustakaan paling lengkap, kelas paling nyaman, lapangan paling lapang, tak pernah ia bisa digantikan oleh gedung-gedung tak bernyawa…

Ibu..
Panggilan yg meneguhkan status kemanusiaan dan kehormatan.. Ibumu, dsb tiga kali d’depan, baru ayahmu menyusul kmudian. Bgitulah Rasulullah mnegaskan. Ia juga panggilan yg mmbawa makna perjuangan. Pegalnya mmbawa kandungan, susahnya posisi berbaring, dan sakitnya melahirkan. Tapi juga senyum manis saat mendengar tangis si kecil pecah…

Ibu..
Mungkin memang tak sesederhana itu. Karena posisi ibu adalah anugerah, yang keimanan pun bukan jaminan Allah pasti mengaruniakannya. Persis sebagaimana ‘Aisyah , Hafshah, Zainab binti Jahsy, dan lainnya. Atau, terkadang menjadi penantian panjang, kegelisahan, kecemasan, dan seterusnya, jika panggilan itu tak segera hadir adlh ujian dari Allah. Lalu kmudian Allah menjawab diantara do’a hamba-Nya. Istri Ibrahim dengan si shalih Ishaq, istri ‘Imran dengan si suci Maryam, dan istri Zakariyya dengan si ‘alim Yahya. Setelah penantian panjang, do’a yg menghiba, dan rasa yg tersembilu..

Ibu..
Menjadi ibu hakiki, yg melahirkan ataupun tidak, setelah ikhtiyar yg paling gigih, doa yg paling tulus, dan tawakkal paling terpasrah, adalah kemuliaan tanpa berkurang sedikitpun. Tidak sedikitpun. Semuanya mulia..

Ibu..
Ya, Ibu.. Melodi paling harmoni yang menggemakan jagad dengan jihad agungnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: