Ingin Terus Bersamamu, Hingga Ajal Menjemputku…

Kisah yang amat menarik. Kisah ini kami haturkan spesial untuk istri tercinta yang nan jauh di sana. Semoga jadi pelajaran penting untuknya dan juga bagi para wanita lainnya. Kami mendapatkan kisah tersebut dari buku ‘Ajaib Ad Du’aa’’. Kisah tersebut tentang sepasang kekasih (suami istri) yang ingin terus bersama hingga maut menjemput. Berikut kisah tersebut:

 

Laki-laki ini menikahi seorang wanita dan mereka hidup bersama selama beberapa tahun, bersama merasa manis dan pahitnya kehidupan, sama-sama merasakan suka maupun duka. Mereka telah memiliki beberapa anak, laki-laki maupun perempuan. Semakin bertambah usia, malah semakin bertambah cinta dan saling menghormati di antara mereka.

Tahukah apa yang mereka berdua panjatkan dalam do’a? Mereka berdo’a pada Allah agar mereka berdua dapat dimatikan bersama-sama.

 

“Ya Allah, teruslah langgengkan cinta kami ini hingga maut menjemput kami berdua bersama-sama…”

 

Demikian kira-kira bagaimana do’a mereka..

 

Suatu hari mereka berdua melakukan perjalanan dengan membawa mobil. Mereka saling bercakap-cakap dan ketika itu benar-benar begitu akrab. Namun tidak disangka beberapa saat kemudian begitu dekat maut menjemput. Apakah mereka saling mendahului satu dan lainnya?

 

Tiba-tiba kendaraan mereka mengalami kecelakaan. “Braaaakk!”

Mereka berdua pun sama-sama meninggalkan dunia..

Semoga mereka dapat bersama terus hingga di surga kelak dengan izin Allah Ta’ala.[1]

 

***

Kisah di atas menunjukkan bagaimanakah ajaibnya doa. Suatu hal yang diharap-harap dalam doa bisa terwujud dengan izin Allah. Maka janganlah lepaskan diri dari do’a, meminta tolong pada Allah sepanjang hayat. Apalagi doa itu menyangkut maslahat kebahagiaan di akhirat.

 

Yang esensial di sini adalah bukan pasangan suami istri itu mati bersama-sama. Namun yang lebih penting adalah bagaimana keduanya bisa mewujudkan impian bersama hingga surga Firdaus A’la. Tentu saja ini diwujudukan dengan keduanya sama-sama bertakwa. Karena persahabatan dan kedekatan di dunia bisa bermanfaat hingga hari akhir nanti adalah dengan takwa. Allah Ta’ala berfirman,

 

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

 

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az Zukhruf: 67)

 

Semoga cinta yang ada di dunia ini Allah tetapkan terus ada antara aku dan kau (istriku tercinta) hingga di surga Firdaus Al A’la. Aamiin Yaa Mujibass Sailin.

 

Worth note for my lovey wife, on 4th Muharram 1431 H (10/12/2010), in Riyadh-KSA

Written by: Muhammad Abduh Tuasikal (rumaysho.com)

[1] Dialihbahasakan dengan sedikit penyesuaian dari ‘Ajaib Ad Du’aa’, Kholid bin Sulaimin bin ‘Ali Ar Robi’i, 2/174, www.ktibat.com

Advertisements

Seputih Melati…

Sahabat, ada satu lagi kisah cerita… yang semoga dengannya, dapat menginspirasi kita… Selamat membaca..

Aida selalu menatap nanar kawan sebayanya. Ingin rasanya memiliki waktu yang cukup untuk bermain bersama mereka, dan tentunya bisa memiliki seperangkat alat masak-masakan ataupun satu boneka Barbie. Tapi Aida selalu tak bisa memilikinya. Ia harus membantu kakak-kakaknya sekedar berjualan kacang ataupun merapikan buku-buku di percetakan tetangga. Kalau tak begitu, bagaimana Aida bisa sekolah dan membeli buku.

Beranjak dewasa, keadaan Aida belum juga berubah. Ia masih saja harus berkutat dengan setumpuk pekerjaan rumah tangga dan mengais rejeki disana-sini. Tapi semua terasa indah, ketika segenggam recehan diperolehnya dan membuat sang ibu tersenyum dengan hasil jerih payahnya. Ah, Aida tak pernah lagi bermimpi memiliki baju yang indah, sepatu yang layak ataupun bisa menikmati malam minggu yang indah seperti kawan-kawan sebayanya. Aida cukup bahagia melihat ibunda tak lagi berbalut luka, setelah ditinggal sang ayah.

Allah ternyata membukakan jalan bagi Aida untuk bisa melanjutkan ke jenjang kuliah. Kuliah yang dijalani Aida dengan penuh kesungguhan dan ketekunan. Sekalipun kadang tak sepeserpun uang ada di tangan, ataupun sehari penuh tak menyentuh makanan. Senyum Aida selalu terkembang jika seluruh amanah bisa terselesaikan. Hingga saat penyematan kelulusan tiba, Aida memutuskan tak mengikuti wisuda. Aida terbayang begitu banyak ongkos yang harus dikeluarkan oleh kakak dan bunda jika Ia memutuskan mengikuti wisuda. Aida selalu berpikir, Allah akan menggantikan dengan kebahagiaan yang lebih indah bagi mereka lebih dari sekedar melihat Aida diwisuda. Aida yakin itu.

Kini Aida telah tegak berdiri. Jika mau, Aida bisa membeli apapun yang diinginkan. Kendaraan, rumah, gaun yang paling indah, perhiasan dan segala kemewahan lainnya. Tapi tidak. Aida ada untuk mereka, untuk ibu, kakak, adik, dan siapapun yang tak seberuntung Aida. Bagi Aida, memberi dengan ketulusan adalah kebahagiaan yang terindah, menebarkan senyum adalah ketenangan yang tak ada bandingnya, dan mempersembahkan hidup untukNya adalah keindahan yang luar biasa.

Ah, Aida bahagia…. Sekalipun ada banyak hal yang lepas dari genggaman, tapi Aida yakin… Ia akan selalu mendapatkan ganti yang lebih baik, dan lebih indah.

Aida selalu ingat sebuah lagu yang dipersembahkan oleh seseorang, yang selalu mengingatkan Aida, bahwa bunga terindah adalah bunga yang mampu menebarkan wanginya, dan membentangkan keindahannya, sekalipun harus menghadapi belukar berduri, harus menghadapi terpaan angin dan harus menghadapi hamburan debu. Ya… memberi, dan terus memberi… hingga raga ini tak mampu berderma lagi…

Alhamdulillahi rabbil alamin….

~Teruslah berusaha menjadi seputih melati Aida, sekalipun tak sempurna…~

Kau…

Melati…

Suntingan hati..

Kau tumbuh diantara belukar berduri..

Seakan… tak peduli lagi..

Meski dalam hidupmu kau hanya memberi…

Kau tebar harum..

Sebagai tanda..

Cinta yang telah kau hayati..

Di sepanjang waktu…

(Kau seputih melati )

Semoga bisa kita ambil hikmahnya, semoga bermanfa’at..

Kisah Si Pemalas Dengan Abu Hanifah

Suatu hari ketika Imam Abu Hanifah sedang berjalan-jalan melalui sebuah rumah yang jendelanya masih terbuka, terdengar oleh beliau suara orang yang mengeluh dan menangis tersedu-sedu. Dia mengeluh, “Aduhai, alangkah malangnya nasibku ini, sepertinya tiada seorang pun yang lebih malang dari nasibku yang celaka ini. Sejak dari pagi tadi belum datang sesuap nasi atau makanan pun di kerongkonganku sehingga seluruh badanku menjadi lemah lunglai. Oh, manakah hati yang belas kasihan yang sudi memberi curahan air walaupun setitik.”

 

Mendengar keluhan itu, Abu Hanifah berasa kasihan lalu beliau pun balik ke rumahnya dan mengambil bungkusan hendak diberikan kepada orang itu. Ketika dia sampai ke rumah orang itu, dia terus melemparkan bungkusan yang berisi uang kepada si malang tadi lalu meneruskan perjalanannya. Kemudian, si malang merasa terkejut setelah mendapati sebuah bungkusan yang tidak diketahui dari mana datangnya, lantas dia tergesa-gesa membukanya. Setelah dibuka, nyatalah bungkusan itu berisi uang dan secarik kertas yang bertulis, ” Hai manusia, sungguh tidak wajar kamu mengeluh sedemikian itu, kamu tidak pernah atau perlu mengeluh diperuntungkan nasibmu. Ingatlah kepada kemurahan Allah dan cobalah bermohon kepada-Nya dengan bersungguh-sungguh. Jangan suka berputus asa, hai kawan, tetapi berusahalah terus.”

 

Pada keesokan harinya, Imam Abu Hanifah melalui lagi rumah itu dan suara keluhan itu terdengar lagi, “Ya Allah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Pemurah, sudilah kiranya memberikan bungkusan lain seperti kemarin,sekedar untuk menyenangkan hidupku yang melarat ini. Sungguh jika Tuhan tidak beri, akan lebih sengsaralah hidupku”

 

Mendengar keluhan itu lagi, maka Abu Hanifah pun lalu melemparkan lagi bungkusan berisi uang dan secarik kertas dari luar jendela itu, lalu dia pun meneruskan perjalanannya. Orang itu terlalu riang ketika mendapat bungkusan itu. Lantas terus membukanya.

 

Seperti dahulu juga, di dalam bungkusan itu tetap ada secarik kertas lalu dibacanya, “Hai kawan, bukan begitu cara bermohon, bukan demikian cara berikhtiar dan berusaha. Perbuatan demikian “malas” namanya. Putus asa kepada kebenaran dan kekuasaan Allah. Sungguh tidak ridha Allah melihat orang pemalas dan putus asa, enggan bekerja untuk keselamatan dirinya. Jangan….jangan berbuat demikian. Jika anda ingin senang, anda harus suka pada bekerja dan berusaha karena kesenangan itu tidak mungkin datang sendiri tanpa dicari atau diusahakan. Orang hidup tidak disuruh duduk diam dan tidak seharusnya demikian pula tetapi harus bekerja dan berusaha. Allah tidak akan perkenankan permohonan orang yang malas bekerja. Allah tidak akan mengkabulkan doa orang yang berputus asa. Oleh sebab itu, carilah pekerjaan yang halal untuk kesenangan dirimu. Berikhtiarlah sedapat mungkin dengan pertolongan Allah. Insya Allah, akan dapat juga pekerjaan itu selama kamu tidak berputus asa. Nah…carilah segera pekerjaan, saya doakan cepat berjaya.”

 

Sehabis dia selesai membaca surat itu, dia termenung, dia insaf dan sadar akan kemalasannya yang selama ini dia tidak suka berikhtiar dan berusaha.

 

Pada keesokan harinya, dia pun keluar dari rumahnya untuk mencari pekerjaan. Sejak dari hari itu, sikapnya pun berubah mengikuti peraturan-peraturan hidup (Sunnah Allah) dan tidak lagi melupakan nasihat orang yang memberikan nasihat itu.

 

Dalam Islam tiada istilah pengangguran, istilah ini hanya digunakan oleh orang yang berakal sempit. Islam mengajarkan kita untuk maju ke depan dan bukan mengajarkan kepada kita diam di tepi jalan.

http://www.pengusahamuslim.com/baca/artikel/132/kisah-si-pemalas-dengan-abu-hanifah

Apakah Tuhan Menciptakan Segala Hal..?

Suatu saat disebuah ruangan kuliah terjadi percapakan sebagai berikut…

 

Profesor:”Apakah Tuhan menciptakan segala yg ada?”

Seorang mahasiswa:”Betul, Dia yg menciptakan semuanya”.

“Tuhan menciptakan semuanya?” tanya profesor sekali lagi,

“Ya pak, semuanya.” kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan…”

 

Mahasiswa itu terdiam & tidak bisa menjawab hipotesis profesor tersebut. Mahasiswa lain berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu ?”. “Tentu saja,” jawab si Profesor. Mahasiswa : “Profesor, apakah dingin itu ada?”. “Pertanyaan macam apa itu ? Tentu saja dingin itu ada.” Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu-460F adalah ketiadaan panas sama sekali & semua partikel menjadi diam & tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin utk mendeskripsikan ketiadaan panas….”

 

Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada ?”. Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.” Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan di mana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna & mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya…”

 

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?”D. engan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja !” Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan itu TIDAK ADA… Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan….

 

Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yg dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan…. Tuhan tak menciptakan kejahatan… Kejahatan adalah hasil dari TIDAK ADA-nya Tuhan dihati manusia….”

Profesor itu terdiam….

 

Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein…

 

Subhanallah, kedermawanan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Rhadiyallahu ‘anhum dalam keadaan apapun…

Bismillah…

Tidak seperti biasanya, hari itu Ali bin Abi Thalib pulang lebih awal menjelang ashar. Fatimah binti Rasulullah menyambut kedatangan suaminya yang sehari suntuk mencari rezeki dengan sukacita. Siapa tahu Ali membawa wang lebih banyak karena keperluan di rumah makin besar. Sesudah melepas lelah, Ali berkata kepada Fatimah. “Maaf sayangku, kali ini aku tidak membawa uang sesenpun.” Fatimah menyahut sambil tersenyum, “Memang yang mengatur rezeki tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu adalah Allah Ta’ala.” “Terima kasih,” jawab Ali. Matanya memberat lantaran isterinya begitu tawakkal. Padahal keperluan dapur sudah habis sama sekali. Pun begitu Fatimah tidak menunjukan sikap kecewa atau sedih.

Ali lalu berangkat ke masjid untuk menjalankan sholat berjamaah. Sepulang dari sembahyang, di jalan ia dihentikan oleh seorang tua. “Maaf anak muda, betulkah engkau Ali anaknya Abu Thalib?” Ali menjawab dengan hairan. “Ya betul. Ada apa, Tuan?”. Orang tua itu mencari kedalam begnya sesuatu seraya berkata: “Dahulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit. Aku belum sempat membayar upahnya, ayahmu sudah meninggal. Jadi, terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya.” Dengan gembira Ali mengambil haknya dari orang itu sebanyak 30 dinar.

Tentu saja Fatimah sangat gembira memperoleh rezeki yang tidak di sangka-sangka ketika Ali menceritakan kejadian itu. Dan ia menyuruh membelanjakannya semua agar tidak pusing-pusing lagi merisaukan keperluan sehari-hari.

Ali pun bergegas berangkat ke pasar. Sebelum masuk ke dalam pasar, ia melihat seorang fakir menadahkan tangan, “Siapakah yang mau menghutangkan hartanya kerana Allah, bersedekahlah kepada saya, seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan.” Tanpa berfikir panjang, Ali memberikan seluruh uangnya kepada orang itu.

Pada waktu ia pulang dan Fatimah keheranan melihat suaminya tidak membawa apa-apa, Ali menerangkan peristiwa yang baru saja dialaminya. Fatimah, masih dalam senyum, berkata, “Keputusan kanda adalah yang juga akan saya lakukan seandainya saya yang mengalaminya. Lebih baik kita menghutangkan harta kerana Allah daripada bersifat bakhil yang di murkai-Nya, dan yang menutup pintu syurga untuk kita…”

Soure : Artikel MUDZAKARAH dan DA’WAH ILALLAH

مَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ امْوَلَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ انْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui. ” (QS. 2:261)

Subhanallah… Betapa luhurnya akhlaq para salafush sholeh (ummat islam terdahulu).. Mereka yang telah di ridhai Allah-pun masih bertaqwa pada Allah dengan kedermawanannya, bahkan dalam keadaan sulit sekalipun. Lantas dimana kedudukan kita dibandingkan dengan mereka? Semoga Allah memberikan taufiq dan hidayah-Nya pada kita semua untuk  senantiasa meneladani mereka dan bersegera menuju rahmat dan ampunan-Nya. Semoga bermanfaat..

Wallahu waliyut Taufiq..

Janganlah merasa paling hebat…

Jangan merasa paling hebat…

“Dan janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong), dan janganlah berjalan dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang angkuh dan menyombongkan diri.” (Luqman: 18)

Suatu hari seorang Profesor menyewa sebuah sampan untuk membuat penelitian di tengah lautan.Pendayung itu merupakan lelaki tua yang sangat pendiam. Profesor sengaja mengupah lelaki tua itu kerana dia tidak mau orang yang menemaninya banyak bertanya tentang apa yang dia lakukan.

Dengan tekun Profesor itu melakukan tugasnya tanpa menghiraukan pendayung sampan. Dia mengambil air laut dan diisi kedalam tabung uji, digoncang-goncang, kemudian mencatat sesuatu di dalam buku catatan dibawanya. Berjam-jam lamanya Profesor itu melakukan uji coba dengan tekun sekali. Pendayung sampan mendongak ke langit, memandang pada awan yang mulai berarak kelabu. Dalam hati dia berkata “Hmm..tak lama hujan lebat akan turun..”

“OK semua sudah siap mari kita balik.” Lantas pendayung itu memutar sampannya dan mulai mendayung ke arah pantai. Dalam perjalanan itu baru Profesor itu membuka mulut menegur pendayung sampan.
“Dah lama kamu mendayung sampan?” Tanya Profesor kepada pendayung sampan. “Hmm..hampir seumur hidupku,” jawab si pendayung ringkas.
“Seumur hidup kamu? Jadi kamu tidak tahu apa-apa selain mendayung sampan?” tanya Profesor itu lagi.
“Ya..”jawab pendayung sampan dengan ringkas.

Profesor belum berpuas hati dengan jawapan pendayung tua itu. “Kamu tahu Geografi?” Si pendayung menggeleng..
“Kalau begitu kamu hilang 25% dari usia hidup kamu.”
“Kamu tahu Biologi?”tanya Profesor itu lagi. Pendayung sampan itu menggeleng lagi.
“Kasihan kamu telah kehilangan 50% dari usia kamu.”

“Kamu tahu Fisika?” Profesor itu masih bertanya. Seperti tadi pendayung sampan itu hanya menggeleng.
“Sungguh kasihan kalau begitu kamu telah kehilangan 75% usia kamu.Malang sungguh nasib kamu semuanya tidak tahu. Seluruh hidup kamu hanya dihabiskan dengan sampan,tak ada gunanya lagi,”
Profesor itu mengejek dan berkata dengan angkuh setelah merasakan dirinya yang terhebat. Pendayung sampan hanya mendiamkan diri.

Selang beberapa menit kemudian hujan turun dengan lebat, tiba-tiba ombak besar datang melanda. Sampan yang mereka naiki terbalik. Profesor dan pendayung sampan terpelanting. Sempat pula pendayung itu bertanya, “Kamu tahu berenang?” Profesor hanya menggeleng.
“Sayang sekali kamu telah kehilangan 100% nyawa kamu.” Kata pendayung itu sambil berenang ke pantai meninggalkan Profesor yang angkuh tadi.

“Barangsiapa yang merasa sombong akan dirinya atau angkuh dalam berjalan, dia akan bertemu dengan Allah SWT dalam keadaan Allah murka terhadapnya.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Asy- Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 427)

Kesombongan bukanlah pada orang yang senang dengan keindahan. Akan tetapi, kesombongan adalah menentang agama Allah dan merendahkan hamba-hamba Allah .

Demikian yang dijelaskan oleh Rasulullah tatkala beliau ditanya oleh ‘Abdullah bin ‘Umar , “Apakah sombong itu bila seseorang memiliki perhiasan yang dikenakannya?” Beliau menjawab, “Tidak.” “Apakah bila seseorang memiliki dua sandal yang bagus dengan tali sandalnya yang bagus?” “Tidak.” “Apakah bila seseorang memiliki binatang tunggangan ( kendaraan ) yang dikendarainya?” “Tidak.” “Apakah bila seseorang memiliki teman-teman yang biasa duduk bersamanya?” “Tidak.” “Wahai Rasulullah, lalu apakah kesombongan itu?” Kemudian beliau menjawab: “Meremehkan kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 426)

source : rumah yatim indonesia dua

Rotasi Kebajikan…

Bryan hampir saja tidak melihat wanita tua yang berdiri dipinggir jalan itu, tetapi dalam cahaya berkabut ia dapat melihat bahwa wanita tua itu membutuhkan pertolongan. Lalu ia menghentikan mobil Pontiacnya di depan mobil Mecedes wanita tua itu, lalu ia keluar dan menghampirinya.

Walaupun dengan wajah tersenyum wanita itu tetap merasa khawatir, karena setelah menunggu beberapa jam tidak ada seorang pun yang menolongnya.

Apakah lelaki itu bermaksud menyakitinya?
Lelaki tersebut penampilanya tidak terlalu baik, ia kelihatan begitu memprihatinkan. Wanita itu dapat merasakan kalau dirinya begitu ketakutan, berdiri sendirian dalam cuaca yang begitu dingin, sepertinya lelaki tersebut tau apa yang ia pikirkan. Lelaki itu berkata “Saya kemari untuk membantu anda bu, kenapa anda tidak menunggu didalam mobil bukankah disana lebih hangat? oh ya nama saya Bryan.”

Bryan masuk kedalam kolong mobil wanita itu untuk memperbaiki yang rusak.
Akhirnya ia selesai, tetapi dia kelihatan begitu kotor dan lelah, wanita itu membuka kaca jendela mobilnya dan berbicara kepadanya, ia berkata bahwa ia dari St Louis dan kebetulan lewat jalan ini.
Dia merasa tidak cukup kalau hanya mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah diberikan.Wanita itu berkata berapa yang harus ia bayar, berapapun jumlahnya yang ia minta tidak menjadi masalah, karena ia membayangkan apa yang akan terjadi jika lelaki tersebut tidak menolongnya. Bryan hanya tersenyum.

Bryan tidak mengatakan berapa jumlah yang harus dibayar, karena baginya MENOLONG ORANG BUKANLAH SUATU PEKERJAAN YANG HARUS DIBAYAR. Ia sangat yakin apabila menolong seseorang yang membutuhkan pertolongan tanpa suatu imbalan suatu hari nanti Tuhan pasti akan membalas amal perbuatanya.

Ia berkata kepada wanita itu “Bila ia benar-benar ingin membalas jasanya, maka apabila suatu saat nanti ia melihat seseorang yang membutuhkan pertolongan maka tolonglah orang tersebut… dan ingatlah pada saya..”

Bryan menunggu sampai wanita itu menstater mobilnya dan menghilang dari pandangan.
Setelah berjalan beberapa mil wanita itu melihat kafe kecil, lalu ia mampir kesana untuk makan dan beristirahat sebentar. Pelayan datang dan memberikan handuk bersih untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Wanita itu memperhatikan sang pelayan yang sedang hamil, dan masih begitu muda. Lalu ia teringat kepada Bryan

Setelah wanita itu selesai makan dan, sang pelayan sedang mengambil kembalian untuknya, wanita itu pergi keluar secara diam-diam.

Setelah kepergiannya sang pelayan kembali, pelayan itu bingung kemana wanita itu pergi, lalu ia menemukan secarik kertas diatas meja dan uang $1000. Ia begitu terharu setelah membaca apa yang ditulis oleh wanita itu:
“Kamu tidak berhutang apapun pada saya karena seseorang telah menolong saya, oleh karena itulah saya menolong kamu, maka inilah yang harus kamu lakukan:
“Jangan pernah berhenti untuk memberikan cinta dan kasih sayang.”

Malam ketika ia pulang dan pergi tidur, ia berfikir mengenai uang dan apa yang di tulis oleh wanita itu.
Bagaimana wanita itu bisa tahu kalau ia dan suaminya sangat membutuhkan uang untuk menanti kelahiran bayinya?
Ia tau bagaimana suaminya sangat risau mengenai hal ini, lalu ia memeluk suaminya yang terbaring disebelahnya dan memberikan ciuman yang lembut sambil berbisik :”Semuanya akan baik-baik saja sayangku, I Love You Bryan..”

Sahabat, ternyata sang pelayan tersebut adalah istri lelaki yang bernama Bryan..

“Segala sesuatu yang berputar akan selalu berputar”, therefore, don’t ever to stop to do good things in your life. (Oleh karena itu, jangan pernah berhenti untuk melakukan hal-hal baik dalam hidup Anda )

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri..” (Q.S.Al-Isro’ : 7)

“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu..” ( Q.S. An-Nisa : 86 )

Semoga kisah tersebut dapat kita jadikan pelajaran dan bisa kita terapkan.. Semoga bermanfaat..
*sourse : House of The Orphan*

SYEIKH IBNU BAZ Rahimahulloh Ta’ala Dalam Keluarga

SYEIKH IBNU BAZ Rahimahulloh Ta’ala DALAM KELUARGA

Segala puji hanya milik Alloh Rabb semesta alam, Sholawat serta salam selalu tercurah pada Nabi kita Muhammad Sholallohu alaihi wa sallam, keluarga beliau, seluruh para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Semoga Alloh merahmati Imam Ibnu baz dengan keluasan rahmatNya dan menempatkannya pada surgaNya yang luas. Beliau adalah salah satu orang yang memiliki keistimewaan dengan sifat-sifat yang terpuji, perangai yang mulia, akhlak yang indah, tindak-tanduk yang baik, dan perasaan rendah hati yang besar. Beliau juga adalah salah satu orang yang patut untuk diikuti dalam adab, ilmu, akhlak dan sifatnya. Petunjuk beliau terbangun di atas kitabullah dan sunnah Rasul yang mulia. Terlebih lagi dalam hal kezuhudan, ibadah, amanah, kejujuran, penyandaran dan ketundukkan diri kepada Alloh. Juga dalam hal perasaan takut beliau kepada Alloh, kemurnian hatinya, kedermawanannya, baiknya pergaulan, cara dalam mengikuti sunnah Para salafusholih dan banyaknya ibadah beliau. Maka semoga Alloh merahmati beliau dan menjadikan surga firdaus menjadi tempat kembali beliau.

Dan sebagai ibrah bagi diriku dan saudara sekalian, saya akan berbicara tentang jalan hidup Imam Ibnu Baz rahimahulloh bersama keluarga dan kerabat-kerabat beliau, dengan menukil dari beberapa perkataan beliau yang tercantum dalam kitab “ Imam besar kaum muslimin pada abad ke dua puluh” (1/ 24-26/ cet. Pustaka ArRayyan)

Syeikh Ibnu Baz wafat meninggalkan kedua istrinya:

Istri pertamanya : Ummu abdillah (Beliau menganjurkan kepada syaikh untuk menikah kembali karena beliau tidak mampu mengabdi kepada syeikh di usianya yang sudah tua)
Istri keduanya : Ummu Ahmad
Beliau Rahimahulloh juga memiliki 4 anak laki-laki dan 6 anak perempuan:

Anak laki-laki beliau:

Dari istri pertama : Abdurrahman ( dengan nama ini syaikh memakai kunyah) dan Abdullah
Dari istri kedua : Ahmad dan Kholid

Anak perempuan beliau: Saroh, Hindun, Mudhowy, Jauharoh, Haya’, Nauf.

Seluruh anak perempuan beliau menikah, adapun riwayat yang dinukil darinya bahwa anak perempuan beliau yang paling muda bernama Nada atau huda yang berumur 10 tahun maka itu tidak benar.

Maka, saya di sisni akan memulai menyebutkan sebagian perkataan anggota keluarga dan para kerabat beliau dengan memohon bantuan dari Allah Taala.

Abdullah (Anak laki-laki beliau yang paling besar)

Pertanyaan: Dengan kesibukan beliau, bagaimana beliau memilih waktu yang tepat untuk anggota keluarga, amak-anak dan cucu beliau rahimahulloh?

Jawab: Beliau rahimahullah mengkhususkan dua hari dalam seminggu, salah satu harinya beliau berikan untuk laki-laki dari anak-anak, cucu dan anggota keluarga beliau rahimahulloh, dan hari yang lain untuk wanita dari anak-anak, istri-istri, cucu dan anggota keluarga beliau rahimahulloh. Beliau duduk bersama mereka, berbicara kepada mereka semua dalam segala aspek perkara kehidupan, umum dan perkara dien. Beliau memberikan pengarahan dalam segala hal yang memiliki kebaikan dan kemaslahatan umum bagi anggota keluarga. Apabila ada masalah pada sebagian anggota keluarga, maka beliau menunda penyampaian karena kemurahan beliau dan menentukannya pada waktu yang tepat. Beliau mendidik Keluarganya yang kecil dengan hati-hati dan kasih sayang, sedang keluarga muslimah yang besar, beliau didik tanpa membeda-bedakan mereka. Beliau selalu berhati-hati dalam setiap perkara.

Abdurrahman (Anak laki-laki beliau yang kedua)

Pertanyaan: Apakah beliau dahulu memiliki nasehat-nasehat khusus yang beliau kemukakan kepada anda atau kepada anak-anak beliau?

Jawab: Beliau banyak memberikan nasehat keagamaan kepada kami sebagaimana halnya kepada setiap orang yang menemuinya, beliau juga selalu memfokuskan untuk memperhatikan masalah sholat dan menuntut ilmu.

Pertanyaan : Bagaimana pandangan beliau tentang pendidikan putri-putrinya?

Jawab: Alhamdulillah, setiap anak syaikh dan cucu-cucu beliau mendapatkan pendidikan yang cukup, bahkan sebagian dari mereka dapat menempuh pendidikan universitas. Dan beliau dikenal memiliki semangat dalam mengajari mereka.

Pertanyaan: Berapa kali ayah anda (syeikh Ibnu Baz) berhaji ?

Jawab : Beliau berhaji sebanyak 60 kali

Syeikh Ahmad (putra ketiga Syaikh Ibnu Baz)

Pertanyaan : Bagaimana pendapat Anda terhadap sikap beliau tentang kakak dan saudara kandung beserta anak-anaknya ?

Jawab : Ayahanda –semoga Allah merahmati beliau- dahulu berziarah dan menelpon mereka, tidak berselang satu atau dua hari kecuali ayah berziarah kepada mereka meskipun ayahanda banyak kesibukan. Ayahanda dan paman memiliki hubungan kecintaan dan penghormatan yang kuat.

Pertanyaan : Dahulu sebagian besar waktu beliau banyak bersama orang, apakah beliau sempat makan bersama keluarga ?

Jawab : Beliau makan bersama keluarga hanya makan malam saja itupun kadang-kadang ketika beliau mengumpulkan keluarga dalam acara mingguan.

Ummu Abdillah ( istri beliau )

Pertanyan : Beliau memiliki dua istri, bagaimana beliau berbuat adil antara keduanya? Dan apa cara beliau untuk menyatukan hati hati anak-anak beliau ?

Jawaban : Beliau sangat bersemangat untuk selalu berbuat adil dalam segala sesuatu, baik dalam pemberian nafkah, jatah menginap dan dalam semua hal. Begitu pula dalam masalah berhaji. Saya pernah berhaji pada suatu tahun bersama beliau, dan pada tahun yang lain beliau berhaji bersama istri yang lain. Adapun kepada anak-anak, beliau selalu memotivasi mereka untuk saling menyambung silaturahmi dan saling berziarah.

Ummu Ahmad ( istri beliau )

Pertanyaan : Dalam pertemuan keluarga, apakah beliau mengkhususkan urusan keluarga saja atau urusan keluarga dan agama?

Jawab : Dalam pertemuan-pertemuan keluarga beliau biasa meminta beberapa putra beliau untuk membaca al qur’an kemudian beliau mentafsirkan beberapa ayat yang mudah. Setelah itu mereka mengajukan pertanyaan, permasalahan dan penjelasan kepada beliau dan lain sebagainya.

Sarah ( Putri beliau yang tertua )

Pertanyaan : Diantara sikap beliau didalam pendidikan yang banyak anda dapatkan, apakah anda ingat cara mendidik beliau yang berpengaruh pada anda dan anda berusaha untuk menerapkannya pada putra-putri anda ?

Jawab : Tidak mungkin untuk membatasi sisi tertentu dalam sikap beliau dalam pendidikan, yang mana kehidupan beliau –semoga Allah mengampuni beliau- bersama kami semuanya adalah cerminan dari pendidikan dan arahan beliau, akan tetapi diantara hal yang penting untuk disebutkan disini adalah semangat beliau dalam mengarahkan kami semenjak dini untuk selalu menunaikan sholat tepat pada waktunya. Beliau terus menerus mengawasi keistiqomahan kami dalam hal itu, baik anggota keluarga yang besar atau yang kecil. Alhandulillah saya bersemangat dalam mendidik anak-anak saya seperti cara beliau, dan Alhamdulillah saya bisa melakukan hal itu dengan pertolongan Allah. Putra saya yang paling kecil yaitu Abdul Aziz yang sekarang berumur 9 tahun Alhamdulillah tidak pernah terlewatkan sholat wajibnya sejak kurang lebih dua tahun lalu.

Jauharoh ( putri beliau )

Pertanyaan : Apa metode ayahanda yang mulia dalam masalah sholat ketika kalian masih kecil, dan sejak umur berapa beliau mulai membangunkan kalian untuk sholat fajar ?

Jawab : Beliau memulai pada saat kami berumur 7 tahun, beliau selalu memerintahkan untuk sholat dan menyampaikan tentang keutamaannya serta selalu memperingatkan supaya tidak melalaikan dan terlambat mengerjakannya, beliau mengatakan bila saya terlambat mengerjakannya : ‘ Berta’awudlah “.

Sepertinya dahulu aku pernah meninggalkannya, aku ingat, ketika aku kecil aku lupa mengerjakan sholat dhuhur dan ashar. Ketika beliau tahu hal itu beliau sangat marah dan berkata kepadaku :” Kalau kamu mendengar adzan bersegeralah mengerjakan sholat, bila kamu tidak tahu waktu tanyalah kepada kepada wanita agar memberi tahu waktunya”.

Ketika umur kami menginjak sekitar 9 tahun beliau mulai membangunkan kami untuk sholat subuh, beliau membangunkan kami satu persatu dan mengulang-ulang doa bangun tidur dan bertahlil serta mengatakan kepada kami :” Baca ini dan ini “. Maka beliau mengulang doa dipendengaran kami kemudian pergi sebentar dan beliau kembali lagi untuk memastikan bahwa kami benar-benar terbangun. Ketika kami telah memiliki telfon pararel dalam rumah beliau menghubungi satu persatu di kamar masing-masing untuk membangunkannya guna manunaikan sholat subuh, sampai-sampai saudaraku yang telah menikah yang tinggal disamping rumah kami, beliau pun menelfonnya.

Pertanyaan : Dan bagaimana dalam masalah hijab dan pakaian?

Jawab : Ketika sekitar umur 10 tahun kami memakai baju panjang (jubah), beliau sangat perhatian agar jubah itu panjang dan tidak tipis, dan beliau selalu mengingatkan hal itu. Ketika kami telah dewasa beliau memperingatkan kami dari model pakaian yang tidak menutup. Dalam masalah pakaian beliau senang pakaian panjang dan memiliki lengan panjang. Ketika dalam masa sempit, ibuku memberikan kami pakaian dengan lengan pendek, ketika itu kami masih kecil, beliau (ayah) merasa bimbang dengan hal itu dan meminta ibu untuk berhati-hati dan menjadikan lengannya panjang. Suatu ketika sebelum beliau wafat, kami mengucapkan salam kepadanya, maka beliau memegang salah satu dari kami untuk mendekat. Beliaupun menyentuh tangannya untuk mengetahui seberapa panjang lengan bajunya, bila tahu lengan itu pendek maka beliau menasehati untuk menutupinya.

Pertanyaan : Ketika terjadi sesuatu yang tidak beliau ridhoi baik perkataan atau perbuatan dari kalian ketika masa kecil, bagaimana beliau menghukumi perkara itu ?

Jawab : Beliau memiliki kepribadian yang kuat dan kami sangat segan terhadap kepribadian beliau, kami tidak suka berbuat atau berkata yang membuat beliau marah, bila terjadi kesalahan beliau memanggil yang salah dan memberitahu sisi kesalahannya serta mengajari hal yang sepatutnya dilakukan. Dalam kondisi seperti ini akan nampak tanda-tanda kemarahan. Aku tidak ingat sama sekali kalau beliau pernah memukul, beliau tidak memukul tetapi mengajarkan dengan kata-kata.

Pertanyaan : Dari sekian sikap beliau dalam masalah pendidikan yang anda dapatkan darinya, apakah anda ingat sikap yang sangat membekas dan ingin anda terapkan pada putra-putri anda?

Jawab : Dari sekian sikap-sikap beliau yang saya ingat, ketika saya masih kecil saya salah dalam urutan berwudlu. Sayapun berselisih dengan saudara saya dalam hal itu. Maka saudara saya mengabarkan hal itu kepada ayah. Beliau lalu mengumpulkan kami dan memintaku untuk mengampil salah satu kitab fikih dan memintaku untuk membuka kitab masalah wudlu. Beliau memintaku untuk membacanya. Ketika aku telah membacanya, jelaslah bagiku kesalahanku dalam tatacara wudlu, lalu beliau berkata :” apakah kamu tahu sekarang ?”. aku menjawab :” iya”. Lalu beliau berkata :” Alhamdulillah”. Kemudian beliau menjelaskan kepadaku tatacara wudlu agar lebih faham. Ini menunjukkan perhatian beliau –semoga Allah merahmatinya- untuk memperingatkan dan memotivasi kami agar mentelaah permasalahan-permasalahan dalam kitab yang baik.

Nauf ( putri beliau yang paling kecil )

Pertanyaan : Dalam pergaulan dengan putra-putri beliau, apakah beliau memberikan perlakuan khusus terhadap putri-putri beliau ?

Jawab : Pergaulan beliau sama kepada semua putra-putrinya tidak membeda-bedakan satu dengan yang lainnya, beliau tidak mengkhususkan perlakuan terhadap putri-putrinya akan tetapi beliau adil kepada kami dalam semua hal.

Wafa (cucu perempuan beliau dari putrinya yang bernama Sarah)

Pertanyaan : Ketika kalian kecil apakah kalian menonton televisi di rumah kakek kalian ?

Jawab : Di rumah kakek tidak ada sarana-sarana yang sia-sia yang sekarang beredar seperti televisi dan lain sebagainya.

Pertanyaan : Bagaimana hubungan beliau terhadap wanita-wanita sekeluarga ?

Jawab : beliau bersikap lemah lembut dan suka tersenyum kepada semua orang, beliau memiliki jiwa canda yang disukai, beliau menyambut dan menyapa semua wanita yang ada dalam pertemuan rutin keluarga serta menanyakan keadaan mereka.

Fatimah ( istri cucu beliau yang bernama Walid bin Abdillah)

Pertanyaan : Apakah anda ingat suatu momen bersama ayahanda ?

Jawab : Setelah pernikahanku selang 2 hari aku berziarah ke rumah beliau, ketika aku mengucapkan salam kepadanya beliau memegang tanganku sampai siku dan ketika itu aku memakai baju lengan pendek, maka beliau menasehatiku agar memakai baju dengan panjang karena lebih bisa menutupi, kemudian mendoakanku. Kejadian itu tidak akan pernah aku lupakan.

Maha (cucu beliau dari salah seorang putrinya)

Pertanyaan : Maukah anda menceritakan kepada kami salah satu momen pilihan ketika beliau bercanda bersama anak-anak kecil dan cucu-cucu beliau ?

Jawab : Dahulu beliau bersifat lemah lembut dalam bercanda bersama anak-anak kecil, cucu-cucu beliau dan secara umum kepada anak kecil lainnya. Kebanyakan beliau menanyai mereka dengan beberapa pertanyaan tertentu, seperti : siapa Robb mu? Siapa Nabimu ? apa agamamu? Apa kamu memiliki hafalan al qur’an ?. kemudian beliau mengajari jawabannya kalau mereka tidak tahu, namun waktu beliau sedikit untuk duduk bersama mereka dikarenakan banyaknya kesibukan beliau.

Semoga Allah merahmati dengan rahmat yang luas kepada Ibnu Baz; imam, sang pendidik, yang jadi panutan. Dan mengumpulkan beliau bersama golongan para Nabi, para siddiqin, Syuhada’ dan orang-orang sholih, dan merekalah sebaik-baik teman.

Sumber : http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=328 • Diterjemahkan oleh direktori-islam.com • Dimuat ulang oleh shalihah.com

Sedekah Abdurrahman Bin Auf

Salah satu sifat mulia dan disukai Allah adalah sedekah. Memberikan sebagian harta ataupun apa yang kita punya untuk orang lain. Rasulullah SAW banyak memiliki sahabat yang pemurah. Salah satunya adalah Abdurrahman bin Auf. Dia terkenal dengan kedermawannya sehingga Rasulullah menyebutnya kelak sebagai ahli surga. Salah satu kisah sedkahnya yang legendaris.

Pada suatu hari, saat kota Madinah sunyi senyap,   debu tebal berwarna kekuningan mengepul dan mendekat dari berbagai penjuru kota mendekati pintu-pintu kota Madinah. Orang menyangka badai pasir tengah datang tengah datang. Tapi ternyata debu berasal dari kafilah dagang yang sangat yang sangat besar berupa 700 ekor unta penuh muatan memadati jalanan Madinah.

Orang-orang segera keluar melihat pemandangan yang menakjubkan itu. Ini adalah kafilah milik Abdurrahman  bin Auf ra yang baru saja datang dari syam membawa barang dagangan miliknya.

Mendengar kedatangan kafilah Abdurrahman bin Auf itu, Aisyah ra menggeleng-gelengkan kepala, dan berkata,” Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda,’ Aku bermimpi melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak’.” (Al-Kanz, no. 33500)

Sebagian sahabat menyampaikan berita ini kepada Abdurrahman bin Auf. Mendengar itu, Ia teringat perkataan Rasulullah yang pernah berkata,” Wahai Abdurrahman bin Auf, sesungguhnya kamu termasuk kaum yang kaya raya dan kamu akan masuk ke surga dengan merangkak. Oleh karena itu pinjamkanlah sesuatu pinjaman kepada Allah sehingga membebaskan kedua telapak kakimu.” (HR. Al-Hakim,3/311 dan Al-Hiyan, 1/99)

Abdurrahman bin Auf pun pergi kerumah Aisyah ra dan berkata,” Sungguh engkau telah menyebutkan suatu hadits yang tak akan pernah aku lupakan. Aku bersaksi bahwa kafilah ini berikut muatan dan pelananya aku Infakkan di jalan Allah.” Muatan itu dibagi-bagikan kepada penduduk Madinah dan sekitarnya.

Dilain waktu, Abdurrahman bin Auf ra menjual tanah seharga 40.000 dinar, kemudian membagikan semuanya kepada Bani Zahrah, untuk istri Rasulullah, dan kaum fakir dikalangan kaum muslimin. Suatu hari dia memberikan untuk pasukan kaum muslimin sebanyak 500 kuda. Pada hari yang lain memberikan sebanyak 1500 unta. Ketika meninggal, ia mewasiatkan sebanyak 50.000 dinar dijalan Allah. Ia mewasiatkan untuk masing-masing orang yang masih hidup dari perang Badar adalah 400 dinar. Bahkan sahabat Usman bin Affan pun mengambil bagiannya dari wasiat tersebut seraya berkata,” Harta Abdurrahman adalah bersih dan halal, menikamti harta tersebut mejadi kesembuhan dan keberkahan.”

Saat menjelang ajalnya, Allah menurunkan ketenteraman-Nya pada Abdurrahman sehingga wajahnya berbinar-binar dengan cahaya. Seloah ia mendengar sesuatu yang menyejukkan dan dekat dengannya. Seperti ia mendengar suara sabda Rasullullah masa lalu,” Abdurrahman bi Auf masuk surga.”

Ia seakan mendengar janji Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat ayat 262 yaitu bagi yang memberikan harta dijalan Allah tidak akan bersedih, karena memperoleh pahala di sisi-Nya :

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِىْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِىْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ‌ؕ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَآءُ‌ ؕ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. “

Ummu Sulaim, Kisah Mahar Paling Indah

Sejarah telah berbicara tentang berbagai kisah yang bisa kita jadikan pelajaran dalam menapaki kehidupan. Sejarah pun mencatat perjalanan hidup para wanita muslimah yang teguh dan setia di atas keislamannya. Mereka adalah wanita yang kisahnya terukir di hati orang-orang beriman yang keterikatan hati mereka kepada Islam lebih kuat daripada keterikatan hatinya terhadap kenikmatan dunia. Salah satu diantara mereka adalah Rumaisha’ Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin Adi bin Najar Al-Anshariyah Al-Khazrajiyah. Beliau dikenal dengan nama Ummu Sulaim.

Siapakah Ummu Sulaim ?

Ummu Sulaim adalah ibunda Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkenal keilmuannya dalam masalah agama. Selain itu, Ummu Sulaim adalah salah seorang wanita muslimah yang dikabarkan masuk surga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau termasuk golongan pertama yang masuk Islam dari kalangan Anshar yang telah teruji keimanannya dan konsistensinya di dalam Islam. Kemarahan suaminya yang masih kafir tidak menjadikannya gentar dalam mempertahankan aqidahnya. Keteguhannya di atas kebenaran menghasilkan kepergian suaminya dari sisinya. Namun, kesendiriannya mempertahankan keimanan bersama seorang putranya justru berbuah kesabaran sehingga keduanya menjadi bahan pembicaraan orang yang takjub dan bangga dengan ketabahannya.

Dan, apakah kalian tahu wahai saudariku???

Kesabaran dan ketabahan Ummu Sulaim telah menyemikan perasaan cinta di hati Abu Thalhah yang saat itu masih kafir. Abu Thalhah memberanikan diri untuk melamar beliau dengan tawaran mahar yang tinggi. Namun, Ummu Sulaim menyatakan ketidaktertarikannya terhadap gemerlapnya pesona dunia yang ditawarkan kehadapannya. Di dalam sebuah riwayat yang sanadnya shahih dan memiliki banyak jalan, terdapat pernyataan beliau bahwa ketika itu beliau berkata, “Demi Allah, orang seperti anda tidak layak untuk ditolak, hanya saja engkau adalah orang kafir, sedangkan aku adalah seorang muslimah sehingga tidak halal untuk menikah denganmu. Jika kamu mau masuk Islam maka itulah mahar bagiku dan aku tidak meminta selain dari itu.” (HR. An-Nasa’i VI/114, Al Ishabah VIII/243 dan Al-Hilyah II/59 dan 60). Akhirnya menikahlah Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah dengan mahar yang teramat mulia, yaitu Islam.

Kisah ini menjadi pelajaran bahwa mahar sebagai pemberian yang diberikan kepada istri berupa harta atau selainnya dengan sebab pernikahan tidak selalu identik dengan uang, emas, atau segala sesuatu yang bersifat keduniaan. Namun, mahar bisa berupa apapun yang bernilai dan diridhai istri selama bukan perkara yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesuatu yang perlu kalian tahu wahai saudariku, berdasarkan hadits dari Anas yang diriwayatkan oleh Tsabit bahwa Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda, “Aku belum pernah mendengar seorang wanita pun yang lebih mulia maharnya dari Ummu Sulaim karena maharnya adalah Islam.” (Sunan Nasa’i VI/114).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang kita untuk bermahal-mahal dalam mahar, diantaranya dalam sabda beliau adalah: “Di antara kebaikan wanita ialah memudahkan maharnya dan memudahkan rahimnya.” (HR. Ahmad) dan “Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.” (HR. Abu Dawud)

Demikianlah saudariku muslimah…
Semoga kisah ini menjadi sesuatu yang berarti dalam kehidupan kita dan menjadi jalan untuk meluruskan pandangan kita yang mungkin keliru dalam memaknai mahar. Selain itu, semoga kisah ini menjadi salah satu motivator kita untuk lebih konsisten dengan keislaman kita. Wallahu Waliyyuttaufiq.

Maraji:

  1. Panduan Lengkap Nikah dari “A” sampai “Z” (Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin ‘Abdir Razzaq),
  2. Wanita-wanita Teladan Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Mahmud Mahdi Al Istanbuli dan Musthafa Abu An Nashr Asy Syalabi)

***

*source: muslimah.or.id

« Older entries