Suamiku, Engkau adalah Surgaku dan Nerakaku…

Duhai para istri yang mendamba Surga…
Engkau telah memiliki jalan yang mudah untuk meraihnya
Jika saja engkau muliakan suamimu dan memenuhi hak-haknya atasmu
Tapi engkau pun bisa memilih jalan lain
Ketika engkau lalaikan dirimu dari ridhanya
Maka bersiaplah menuai sengsara di Neraka

Risalah ini adalah motivasi untukku dan untukmu wahai saudariku, baik yang telah menikah, yang belum menikah, dan yang akan menikah. Suami adalah Surga dan Neraka bagi para istri. Melalui perantara suamilah para istri akan mendapatkan ‘hadiah’nya di akhirat kelak. Apakah keridhaan ataukah murka dari Rabbul ‘Alamin yang akan kita dapat…? Semua itu bermula dari bagaimana sikap kita terhadap suami. Maka perhatikanlah dengan seksama.

Suami adalah pemimpin dalam rumah tangga, suami ibarat raja dalam sebuah negara. Istri adalah wakil suami yang harus setia, istri adalah pelaksana semua hal yang diamanatkan padanya. Maka jagalah hal ini dengan sebaik-baiknya.

Wahai saudariku, ketahuilah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengisyaratkan dalam sabdanya:

“Sesungguhnya, jika sekiranya aku memerintahkan seseorang untuk sujud kepada selain Allah, maka aku akan memerintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya. Maka demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya! Seorang istri tidaklah menunaikan hak Rabb-nya sehingga dia menunaikan hak suaminya.”[1]

Aduhai, alangkah besarnya hak suami terhadap istri-istrinya. Perhatikanlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang amat agung di atas. Jika manusia dibolehkan sujud kepada manusia, maka yang paling berhak untuk itu adalah suami…

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun hingga bersumpah: Maka demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya! Seorang istri tidaklah menunaikan hak Rabb-nya sehingga dia menunaikan hak suaminya.

Tidaklah dikatakan seorang istri itu memenuhi hak Rabb-nya hingga dia memenuhi hak suaminya. Allahu Akbar…!

Banyak istri dan wanita yang telah lupa dengan pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada bibinya Hushain bin Mihshan ketika beliau bertanya tentang sikapnya terhadap suaminya:

“Perhatikanlah olehmu, dimanakah engkau dari (memenuhi hak)nya, karena sesungguhnya dia (suamimu itu) adalah surgamu dan nerakamu.”[2]

Maka, suami itu adalah jalan para istri untuk meraih kenikmatan Surga atau menjadi sebab bagi para istri tenggelam dalam api Neraka. Manakah yang hendak engkau pilih wahai para istri…? Surgakah atau Nerakakah…?

Tahukah engkau, bahwa sedikit sekali kaum wanita yang akan menjadi penghuni Surga? Demikian khabar yang disampaikan oleh al-Mudzakir Muhammad bin ‘Abdullah ‘alaihish sholatu wa sallam dalam sabdanya:

“Sesungguhnya penghuni Surga yang paling sedikit adalah perempuan.”[3]

Bagaimanakah terjadi demikian?

Ketahuilah saudariku, para wanita yang menolak kenikmatan Surga adalah mereka yang durhaka kepada suaminya, kufur nikmat atas pemberian suaminya, dan lisan mereka banyak digunakan untuk melaknat.[4] Wal’iyyadzubillah…

Tidakkah terbetik dalam hatimu untuk menjadi kesayangan bagi suamimu? Untuk menjadi bidadari baginya di dunia dan akhirat? Dan dengannya engkau akan memperoleh ridha dari Rabb-mu yang amat berlimpah…

Habibullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menggambarkan sosok istri yang baik bagi seorang suami[5]. Dan bagaimanakah seorang suami akan menolak istri yang seperti ini, sungguh suatu perkara yang mustahil…

Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Siapakah istri yang baik itu?’

Maka beliau menjawab: ‘Yang menyenangkan apabila dia dipandang dan menta’atinya apabila dia memerintahkannya, dan dia tidak pernah menyalahi suaminya pada dirinya dan hartanya yang suaminya tidak menyukainya.’”[6]

Tahukah engkau siapa istri yang baik itu…?

Yang telah disabdakan oleh Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau ditanya…

Istri yang baik adalah…

Yang apabila suami melihat dan memandang kepadanya…

Pasti akan menyenangkan suaminya…

Pasti akan menyejukkan pandangan mata suaminya…

Dan dirinya selalu berhias…

Wajahnya selalu berseri dan menenangkan hati…

Penampilan dan pakaiannya selalu menarik…

Dan pada semuanya…

Demi menunaikan hak suaminya…

Sehingga sang suami akan mengatakan, istriku sangatlah menarik…

Akan tetapi, bagaimana dengan istri yang tidak baik…

Istri yang tidak baik itu adalah…

Istri yang tidak menyenangkan apabila dipandang…

Wajahnya selalu cemberut dan merengut ketika bertemu dengan suaminya…

Dirinya selalu menyusahkan hati dan fikiran suaminya…

Pada penampilan dan pakaiannya selalu kusut dan tidak menarik…

Sikap dan tutur katanya keras dan kasar…

Sehingga ketika suami berada bersamanya, maka dia seolah berada dalam Neraka…

Suamiku, engkau adalah Surgaku dan Nerakaku. Maka apa lagi yang akan kuutamakan sebagai seorang istri selain memenuhi hak-hakmu atas diriku. Akan kujadikan engkau senantiasa ridha padaku. Akan kujaga amanat yang telah engkau embankan di pundakku. Dan tidaklah aku akan membantah perintahmu selain perintah untuk bermaksiat kepada Allah…

***

Demikianlah risalah sederhana ini tersusun dengan mengharap wajah-Nya. Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para pengikutnya hingga yaumil akhir kelak.

Semoga Allah senantiasa melapangkan qulub-qulub yang sempit oleh syahwat dan syubhat kepada jalan kebenaran yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya ridwanullahu ‘alaihim ajma’in berada di atasnya.

Wallahu Ta’ala a’lam bish showab.

___________

Catatan kaki:

[1] Hadits shahih lighairihi. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 1853), Ahmad (IV/381), Ibnu Hibban (no. 1290 – Mawaarid –).

[2] Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (IV/341) dan al-Hakim (II/189).

[3] Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (IV/427, 436 dan 443) dan Muslim (no. 2738).

[4] Al-Masaail (IX/159) oleh Abu Unaisah Abdul Hakim bin Amir Abdat, terbitan Darus Sunnah.

[5] Lihat Pernikahan dan Hadiah Untuk Pengantin karya Abu Unaisah Abdul Hakim bin Amir Abdat, terbitan Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

[6] Hadits shahih lighairihi. Diriwayatkan oleh Ahmad (II/251, 432 dan 438), an-Nasa’i (no. 3231 dan ini lafadznya) dan al-Hakim (II/161-162).

 

oleh: Fsi Al-Kautsar Unj

Semoga bermanfaat untukmu,dan untukku..

 

Advertisements

Mencari Kasih Sayang Seorang Suami (2)

Mencari Kasih Sayang Seorang Suami (2)

by admin Keluarga Sakinah

Oleh: Asy Syaikh Salim Al ‘Ajmy hafizhahullah

 

Sungguh berkhidmatnya seorang laki-laki kepada keluarganya, kepada istri dan anak-anaknya, dan upayanya memenuhi keperluan mereka termasuk hal yang akan menguatkan hubungannya dengan mereka. Dan akan membuatnya nampak berwibawa dan berkepribadian tangguh di mata mereka.

 

Hammad bin Zaid berkata: Ayyub As Sikhtiyaaniy berkata padaku: teruslah berdagang di pasar, karena sungguh seorang laki-laki itu akan senantiasa nampak terhormat di mata saudara-saudaranya selama keluarganya tidak membutuhkan orang selainnya.

 

Umar bin Khoththob rodhiyallaahu’anhu berkata: aku kagum dengan seorang laki-laki yang nampak seperti seorang anak kecil di antara anggota keluarganya. Namun ketika ia dibutuhkan, ia menjadi seorang laki-laki dewasa.

 

Sufyan berkata: aku mendengar Abu Sinan berkata: sudah seharian ini aku telah memerah domba dan mengambil satu wadah air untuk memberi minum keluarga. Dan Abu Sinan pernah berkata: sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat untuk keluarganya.

 

Kemudian, sesungguhnya sikap seorang laki-laki yang memenuhi tanggungjawabnya akan membuat sikap tersebut juga tertanam pada diri anak-anaknya. Ketika anak-anak melihat ayah mereka menjalankan tanggungjawabnya, maka mereka akan mewarisi sifat terpuji itu.

 

Betapa banyak orang yang datang mengeluhkan anak-anaknya dan sikap acuh-tak-acuh mereka terhadap dirinya serta ketidakpedulian mereka terhadap kondisi keluarga. Kalau saja lembaran-lembaran kehidupan itu dibalik ke masa lalu, niscaya engkau akan melihat orang ini telah menghabiskan tiga perempat umur hidupnya dengan melarikan diri dari rumah. Dan seperempat sisanya ia habiskan untuk tidur atau melibatkan diri dalam pertengkaran dengan istri.

 

Maka bagaimana dia hendak memetik buah yang manis padahal yang ia tanam adalah jenis buah yang pahit.

Sebagaimana anggur tidak akan dapat dipetik dari duri, orang-orang yang tidak baik pun tidak akan menurunkan keturunan-keturunan yang sholeh.

 

Anak-anak haruslah merasakan keberadaan ayah. Dan ketahuilah bahwa masalah ini adalah soal hutang dan pinjaman. Maka barangsiapa yang menelantarkan, ia akan ditelantarkan. Dan barangsiapa yang tidak pernah menanamkan kewibawaan dirinya di hati orang, maka ia tidak akan pernah memiliki wibawa. Kalau saja tidak pernah ada para lelaki yang menahan diri di rumah untuk mendidik putra-putra mereka, mereka tidak akan pernah menghasilkan pria-pria yang dapat dibanggakan.

 

Sungguh sekian keluarga begitu gaduh dengan berbagai problema. Suara rintihan dan raungan meninggi dan hal itu tidaklah muncul kecuali dengan sebab hilangnya tanggungjawab dari para lelaki.

 

Bukankah suatu hal yang tercela, engkau mendapatkan seorang laki-laki yang dinikahkan dengan seorang anak perempuan yang telah dididik sedemikian rupa agar ia terhindar dari tempat-tempat mencurigakan, dan agar laki-laki ini bisa bersikap sayang kepadanya sehingga anak perempuan itu pun dapat bersandar kepada suaminya, akan tetapi kemudian laki-laki tersebut menelantarkan istrinya seperti sepotong kain usang di pojok ruangan yang tak terhiraukan.

 

Bukankah merupakan suatu hal yang dituntut dalam agama dan akal sehat, bahwa seharusnya laki-laki itu memperlakukan perempuan tersebut dengan cara yang sama dengan yang ia kehendaki dari seorang pria asing yang menjadi suami putrinya?

 

Bagaimana bisa seorang laki-laki -yang menghormati dirinya sendiri- bisa membiarkan istrinya keluar masuk seolah-olah ia adalah seorang suruhan yang bisa diperintah macam-macam, dan ia sampai mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat serta ikut masuk komunitas-komunitas pria, atau bahkan ia sampai membelikan pakaian dalam untuknya.

 

Lalu apa perannya dalam hidup ini?

 

Apakah ia cacat dan harus duduk di kursi roda…, lumpuh.., sakit?

 

“Betapa banyak keburukan yang tak ada penghalang bagiku

Untuk melakukannya kecuali rasa malu.”

“Kalaulah seorang pemuda dikaruniai wajah yang buruk rupanya

Maka perbuatan apapun akan dikerjakan terserah dirinya.”

 

Dan sesungguhnya salah satu akibat ketidakpedulian ini adalah sikap sebagian orang yang membuat istri mereka terdorong melakukan kesalahan. Karena ia hidup bersama istrinya sebagai seorang teman, bukan sebagai seorang suami. Ia tidak punya peran sama sekali bahkan untuk membiayai kebutuhan rumah tangga sekalipun.

 

Di sini, kalau iman di hati lemah, hal itu akan menyebabkan kehancuran. Karena kalau pribadi-pribadi ini sudah sejajar, akan muncullah sikap membanding-bandingkan dan menggeliatlah fitnah. Seorang wanita cerdas berkata: tidak ada seorang wanita pun yang lalai menjaga kehormatannya, melainkan itu disebabkan oleh dosa seorang pria yang telah melalaikan kewajibannya”.

 

Seorang laki-laki yang tidak mau duduk bersama istrinya, tidak memberinya kasih sayang.

 

Seorang laki-laki yang kehadirannya tidak dirasakan oleh istrinya sebagai laki-laki yang bisa dijadikan tempat bersandar.

 

Bahkan sang istri lebih baik dari sang suami dalam mengurus rumah tangga dan keluarga. Bukankah itu dapat menyebabkan hancurnya keluarga dan terjadinya penyimpangan, kecuali mereka yang dijaga oleh Allah?

 

Dan tidaklah penyimpangan yang kalian lihat kecuali disebabkan oleh seorang laki-laki yang begadang sampai pagi untuk bersenang-senang dan berhura-hura. Sedangkan anak dan istri tidak ada yang menjaga dan mengawasi. Maka terjadilah peristiwa-peristiwa mengerikan itu. Maka hendaknya setiap pria bertakwa kepada Allah jangan sampai menempatkan istri dan anggota keluarganya ke negeri kehancuran.

 

Klub-klub, tempat-tempat kongkow, lokasi-lokasi cuci mata, apa isinya? Tidak ada faidah yang didapat berupa kisah berharga, tidak juga majlis yang nyaman. Justru hanya membuang-buang waktu hingga sampai keesokan hari untuk disia-siakan begitu saja sebagaimana waktu hari ini dan kemarin juga disia-siakan. Bagaimana lagi kalau majelis itu isinya adalah kegembiraan atas bencana yang menimpa orang-orang muslim sendiri, atau gosip tentang aib yang sudah Allah tutup atas mereka?

 

Keluarga kita telah menahan diri mereka di rumah demi mendidik kita, hingga kita tumbuh dan mampu memikul tanggungjawab untuk diri sendiri dan orang-orang yang telah Allah jadikan berada di bawah tanggungan kita. Maka kalau kita menginginkan keadilan, inshof dan kenyataan yang tak terbantahkan, maka kita harus menahan diri kita di rumah untuk beberapa waktu demi melahirkan generasi yang mampu menghadapi hidup dan segala hal tak terduga yang sedemikian dahysat di dalamnya pada saat meraungi berbagai peristiwa yang menyakitkan nanti.

 

Ini hanya soal kebiasaan. Sebagaimana yang dikatakan:

“Kusabarkan hari demi hari hingga berlalu

Dan terus kucoba bersabar atas waktu yang terus melaju.”

“Diri itu tergantung bagaimana orang memperlakukannya

Kalau dituruti ia akan terus berkeinginan, kalau tidak maka ia kan berusaha lupa.”

 

Sumber : Majalah Akhwat Vol.1/1431/2010 www.akhwat.or.id



10 Buhul Cinta

Saat suami istri memulai kehidupan berumah tangga, bahkan beberapa saat sebelum perjanjian kuat ikatan pernikahan diikatkan, mereka telah mulai membayangkan indahnya cinta. Bayangan syahdunya cinta itu akan terus menyertai setiap langkah dan kedekatan mereka. Namun apakah artinya sebuah bayangan cinta bagi sepasang suami istri bila tak kunjung menjadi kenyataan?

 

Anda sebagai suami dan Anda sebagai istri tentunya mendambakan cinta. Agar cinta tak berupa bayangan dan angan-angan semata, agar indah dan teduhnya cinta menjadi kenyataan, agar kepak sayap-sayap cinta semakin kuat membawa Anda terbang, agar cinta itu sendiri terus tumbuh dan berkembang, ada sepuluh buhul cinta yang hendaknya diperhatikan.

1. Katakan cinta saat Anda butuh cinta..

Rasa enggan mengungkapkan cinta bisa menjadi masalah mendasar tandusnya kehidupan berumah tangga. Padahal kita semua tahu bahwa semua kita butuh ungkapan cinta.

Sebagai suami, terkadang tidak memahami bahwa istrinya membawa sifat terpuji, malu..

Di saat yang sama ia sangat senang dengan belaian lembut sebuah kata cinta dari suaminya. Namun, berapa banyak suami yang telah memberikan kata cinta sebagai hal yang menyenangkan istrinya? Padahal dengan satu kata cinta para istri akan semakin tahu kedudukannya di hati suaminya, bahkan ia akan berusaha dengan kesungguhannya untuk mempertahankan kedudukannya tersebut sebagai imbalan kata cinta. Sehingga suami yang pintar ialah yang dapat melambungkan istrinya dengan kata-kata cinta.

 

2. Ungkapkan cinta tak hanya dengan kata-kata..

Cinta tak mengenal jarak, cinta tak mengenal waktu.. Teleponlah istrimu di saat engkau berjauhan, dan katakan sebuah kata cinta kepadanya. Pinanglah ia untuk kedua kalinya. Ingatkan ia dengan pandangan pertama kalian berdua di saat dulu kau meminangnya.

Kelembutan ungkapan cinta Anda tentu akan membuatnya dapat merasakan kekuatanmu, sedangkan kelembutan tingkah Anda akan membuat Anda terlihat sebagai seorang yang terkuat dalam pandangannya.

Seorang istri sedang sibuk buka tutup rak mungil di dapur. Suaminya yang melihatnya bertanya, “Apa yang sedang kau cari? Biarkan aku membantumu mencarinya.” Istrinya berkata, “Tidak, sudahlah, biar aku mendapatkannya sendiri.” Sesaat kemudian istri pun mendapati sesuatu yang dicarinya, lalu ia genggam erat sambil bergumam, “Alhamdulillah.” Suaminya mencoba ingin tahu, istri menyembunyikannya di balik tubuhnya dengan kedua tangannya, dan saat suaminya cukup penasaran, sambil tersenyum ia lalu menunjukkannya dan berkata, “Ini hanya sebungkus STMJ instan kesukaanmu yang aku sangat senang menyeduhnya untukmu, suamiku.” Subhanalloh. .

 

3. Berterima kasih dan pujilah ia..

Yang tidak berterima kasih kepada sesama tentu tak berterima kasih pula kepada Dzat Yang Maha Kaya..

Berterima kasihlah dan pujilah istri Anda dengan sejujur-jujurnya. Bukan pujian berlebihan, sebab kejujuran itu sangat sederhana. Pujilah istri Anda dengan wajah, mata dan kata-kata lembut Anda. Pujilah pakaian serta perhiasannya, parfumnya, kelembutannya serta rasa malunya. Pujilah pekerjaannya, kelelahannya, makanan dan minuman yang ia siapkan untuk Anda dan keluarga. Pujilah ia di saat sendirian, pujilah ia di saat Anda bersama orang lain dan kabarkanlah kepadanya bahwa Anda telah memujinya di hadapan mereka.

Banyak suami yang hanya bisa menanamkan dogma kepada istrinya bahwa pekerjaan rumah adalah tanggung jawabnya dan mematuhinya merupakan kewajibannya. Padahal, hal ini justru membuat istri bermalas-malasan dalam melakukan tanggung jawab dan kewajibannya.

Dan suami yang pintar adalah yang pandai menghargai pekerjaan istrinya..

 

4. Ketahuilah apa yang ia suka..

Mengetahui apa yang disuka oleh pasangan merupakan salah satu buhul cinta. Hal ini akan menunjang keharmonisan rumah tangga.

Tanyalah kepada istri atau suami Anda, apa yang dia suka. Apabila Anda telah mengetahuinya, simpan baik-baik dalam memori Anda. Di saat pasangan tidak sedang mengingat-ingatnya, Anda bisa meletakkan sesuatu yang disukainya di hadapannya. Apa yang Anda lakukan ini benar-benar akan menjadi pengganti atas ungkapan perhatian Anda kepada pasangan Anda.

Jangan lupa untuk mengetahui apa yang tidak disukainya. Lalu jangan biarkan sesuatu yang tak disukainya itu ada di dekatnya. Jauhkanlah semua yang tidak dia suka. Dengan begitu, Anda telah memberikan sesuatu yang menggembirakannya.

 

5. Sempatkan berlomba dengannya..

Sesungguhnya Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam ketika usia beliau telah mencapai lima puluh tahun, beliau tetap menyempatkan menghibur istrinya dengan berlomba.

Perlombaan yang merupakan canda dan hiburan hati serta penyegar pikiran. Ini dia Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam, suatu hari beliau berlomba adu kecepatan lari dengan istrinya, ‘Aisyah Rodhiallohuanha,[1] padahal beliau adalah manusia yang paling sibuk. Namun beliau tidak menjadikan kesibukan sebagai alasan untuk menelantarkan istri-istrinya.

Selain itu, manfaat perlombaan seperti ini akan menumbuhkan rasa percaya dari para istri tentang cinta suami kepada mereka. Maka hendaknya diketahui bahwa mengalah kepada istri atas sesuatu dari berbagai kesibukan adalah kata terbaik untuk mengungkapkan rasa cinta kepadanya. Dan Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam telah memberikan teladan dalam hal ini.

 

6. Sekuntum senyuman..

Senyuman merupakan wujud dari berbagai ungkapan isi hati..

Kebahagiaan, kegembiraan, kesenangan, kedamaian, ketenangan dan berbagai keadaan lainnya. Sebaliknya, apatis, murung, cemberut dan semisalnya adalah bentuk ungkapan hati yang tak baik. Tentunya sangat banyak sebabnya. Tatkala Anda datang kepada istri Anda dengan wajah diam, apatis, murung dan cemberut, berarti Anda telah memberi tugas istri Anda untuk berpikir tentang berbagai hal yang menjadi sebab keadaan Anda. Sehingga istri Anda tidak akan tenang sampai ia mengetahui sebab kemurungan Anda.

Terlebih lagi tatkala istri Anda tidak juga bisa mendapati sebab kemurungan Anda, artinya ia tidak akan pernah tahu siapa Anda saat ini sebenarnya. Sebabnya ialah Anda sendiri yang selalu murung di hadapan istri Anda, yang akhirnya hal sangat buruk yang telah menimpa Anda pun istri tidak mengetahuinya.

Dengan demikian, ketika Anda hendak berkisah tentang kegelisahan serta permasalahan Anda, bisa jadi dan sangat mungkin ia tidak akan memperhatikan Anda sebagaimana yang Anda harapkan. Hal seperti ini akan menjadikan Anda marah, dunia menjadi gelap menurut Anda, lalu Anda mulai berkata, “Beginikah sikap seorang istri yang perhatian terhadap suaminya?” Padahal istri Anda tidak bersalah, sebab ia memang benar-benar tidak mengetahui kondisi hati Anda, kapan Anda bersedih dan kapan Anda senang, karena setiap Anda berjumpa dengan istri Anda, hanya wajah murung dan cemberut yang Anda nampakkan.

Maka tersenyumlah dengan keramahan Anda kepadanya, sehingga ia sempat tahu keadaan Anda dan bisa membantu Anda..

 

7. Kreatif saat istri sakit..

Sakit yang dimaksud di sini ialah saat istri haid, hamil, nifas maupun sakit yang lainnya. Ketika sedang haid terkadang seorang wanita mengalami nyeri dan sakit berlebih yang dikeluhkannya. Bahkan saat wanita akan haid, sekitar sepekan sebelum haid, dan di saat ia sedang haid, ia mengalami goncangan-goncangan psikis, goncangan emosional dan kejiwaan yang cukup membuatnya tidak bisa mengontrol perbuatannya sendiri.

Demikian juga saat istri sedang hamil, bahwa kehamilan menyebabkan kelemahan dan susah payah.[2] Kehamilan menyebabkan ganggguan psikis yang tak kalah menyiksa. Terlebih lagi saat istri sedang melahirkan. Kebanyakan istri akan merasa ringan dari penderitaan kehamilan dan melahirkan ini apabila ia selalu didampingi oleh orang yang dapat menenangkan jiwanya, membantunya, menyenangkannya. Maka sudahkah suami memberikan suasana yang sesuai kepada istri di saat ia sedang mengandung dan melahirkan anaknya?

Kalimat-kalimat cinta dan motivasi apa yang telah suami berikan untuk istrinya di saat-saat sulit seperti ini? Padahal saat ini istri benar-benar butuh ungkapan yang meringankan beban dan membesarkan semangat berjuang. Jadi, di manakah suami harus memposisikan dirinya?

Sesungguhnya istri Anda di saat-saat seperti ini hanya membutuhkan kesungguhan dan keihklasan Anda dalam memahami sisi kejiwaannya. Dengannya ia ingin mengetahui kadar cinta Anda dengan ungkapan rasa cinta dan kasih sayang Anda di saat seperti ini. Berlemah lembutkah Anda kepadanya..

Perhatian Anda yang baik atas apa pun yang Anda harus lakukan saat istri sakit merupakan bekal utama melambungkan cinta. Tak sedikitpun Anda boleh menunjukkan sikap kasar. Tak membolehkan ada kekerasan dan keributan di hadapan istri Anda. Semua Anda hadapi dengan optimis dan penuh suka cita. Sebab duka suami saat istri sakit hanya akan membuat sitri beranggapan bahwa sakitnya hanya membuahkan kebingungan dan susahnya suami. Dan ini sama sekali tidak ada baiknya.

 

8. Khusus bagi para suami..

Mengetahui perkembangan karakter istri seiring bertambahnya usia adalah sangat penting. Sebab setiap tangga usia istri Anda memiliki karakter tersendiri yang dengannya ungkapan cinta pun berbeda-beda.

Menurut para peneliti, wanita di suatu daerah pada usia dua puluhan memiliki karakter selalu ingin dimanja. Jiwanya masih labil dan cenderung kekanak-kanakan. Ia selalu ingin coba-coba hal-hal baru. Bahkan ia ingin mencoba-coba segala sesuatu. Ia gemar keluar jalan-jalan bersama suaminya, dan masih senang menjalin hubungan dengan banyak sahabatnya.

Sedangkan wanita pada usia tiga puluhan ia lebih stabil dan mulai berkurang sikap bersantai-santainya. Baginya yang terpenting adalah bagaimana ia mendapat ketenteraman, baik untuk dirinya, suami maupun anak-anaknya. Ia selalu ingin bisa mendidik anak-anak dengan sebaik-baiknya, bahkan ia akan berusaha semampunya untuk memberikan sesuatu yang terbaik untuk rumah tangga serta anak-anaknya. Waktu-waktunya bisa habis demi kebahagiaan rumah tangga dan anak-anak. Hal ini sesuai dengan karakternya yang telah memasuki usia penuh tanggung jawab. Sehingga ia memahami tanggung jawabnya sebagai seorang istri, seorang ibu rumah tangga dan sebagai ibu bagi anak-anaknya.

Berbeda lagi dengan wanita di usia empat puluhan. Selain ia telah menghabiskan waktu dan kemampuannya untuk kebahagiaan rumah tangga, ia mulai cenderung ingin membantu suami dalam setiap pekerjaannya. Seiring dengan maksud baiknya tersebut, ia merasa ingin selalu dekat dengan suaminya, sehingga ia selalu ingin untuk turut serta bersama suaminya keluar rumah. Hal ini menunjukkan bahwa keinginannya untuk keluar rumah bersama suaminya untuk berjalan-jalan muncul kembali.

Para suami yang memahami karakter istrinya di setiap tangga usianya akan tahu bahwa setiap tangga memiliki cara tersendiri untuk mengungkapkan cintanya. Maka hal ini perlu dipelajari, lalu direncanakan bagaimana ia bisa memenuhi keinginan-keinginan istrinya.

Pada usia dini pernikahan, kelemahlembutan dan memanjakan istri adalah buhul cintanya. Sedangkan di usia pertengahan, para suami wajib ekstra disiplin dan perhatian yang sungguh-sungguh sampai pada masalah atau hal-hal yang kecil sekalipun. Sebab istri saat ini dalam keseriusan melaksanakan tanggung jawabnya. Dukunglah ia meski dengan sesuatu yang Anda remehkan, sebab bisa jadi sesuatu yang Anda remehkan justru akan melejitkan cintanya.

Berbeda lagi di saat usia telah memasuki empat puluhan, maka perhatian dan kebersamaan Anda sangat ia butuhkan. Di saat ini kebersamaan Anda adalah buhul cinta Anda..

Namun demikian, di daerah tertentu dengan lingkungan yang berbeda pula, kemungkinan karakter seorang wanita akan berbeda lagi meski pada tangga yang sama. Di sinilah pentingnya Anda, para suami, memperhatikan usia dan karakter istri Anda, agar Anda tidak salah dalam mengungkapkan cinta Anda.

 

9. Siapkan kejutan cinta..

Bila setiap hari Anda yang selalu mendapati seluruh sudut rumah bersih, rapi dan segar, maka siapkan bagaimana hari ini istri Anda-lah yang terharu, kaget dan gembira mendapatinya. Bila setiap hari Anda yang selalu mendapati seluruh pakaian telah bersih, licin dan tertata rapi di lemari baju, maka siapkanlah bagaimana istri Anda hari ini yang mendapatinya.

Bila Anda seorang suami yang pintar memasak, masakan Anda buat keluarga di hari ini bisa menjadi kejutan cinta buat istri Anda. Semua ini perlu direncanakan dengan sebaik-baiknya. Apabila memang Anda telah bisa melakukannya, maka setelah istri gembira, kaget dan terharu atas kejutan Anda, jangan lupa untuk membisikkan dengan perlahan di telinga istri Anda sebuah kalimat, “Akulah yang telah merencanakan dan melakukannya untukmu, karena aku mencintaimu..”

 

10. Jadilah pakaian untuknya..

Fungsi pakaian ialah untuk menutupi. Maksud dari buhul cinta tersebut di akhir tulisan ini ialah, jadilah masing-masing Anda sebagai pakaian bagi yang lainnya, yang bisa menutupi apa yang tak disukai. Di saat suami istri tidak bisa saling menutupi, maka mungkin sekali pihak ketiga akan masuk dan bisa saja merusak hubungan suami istri tersebut. Sebab di saat itu berarti mulai lemahlah hubungan perasaan antara keduanya.

Seorang istri atau pun suami tidak akan memaafkan apabila aibnya diketahui oleh orang lain sebab pasangannya yang membukanya. Namun tatkala pesan-pesan yang tersampaikan kepada istri atau kepada suami ialah pesan-pesan isyarat bukti cinta, bahwa Anda telah membela dan menutupi aibnya di hadapan orang lain, maka jadilah isyarat ini sebagai buhul cinta.

Sebab sama saja artinya Anda telah mengatakan kepada istri atau suami Anda, “Aku mencintaimu, maka aku pun melindungimu..”

 

Barokallohu fiikum..

Penulis: Ustadz Abu Ammar Artikel http://www.Salafiyunpad.wordpress.com [

1] HR. Abu Dawud, kitab al-Jihad, no. 2214

[2] QS. Al-ahqoof [46]: 15 dan QS. Luqman [31]: 14

 

Rahasia Agar Dihargai Suami/ Istri…

Setiap istri tentu ingin dihargai oleh suaminya. Tidak diremehkan atau dipandang sebelah mata, atau dimaki-maki dan dibentak-bentak. Semua ingin disayang, dihargai, dan disikapi secara manusiawi oleh sang belahan hati. Namun sayang, tak semua istri bisa mendapatkan penghargaan dari suaminya. Ada kalanya itu disebabkan karena sikap, tutur kata serta perilaku istri sendiri, yang membuat suami jengah. Terkadang memang ada istri yang sudah berusaha mempersembahkan yang terbaik, namun suami tetap tak bisa menghargainya. Jika seperti itu, mungkin suaminya tergolong awam dalam agama, sehingga tidak mengerti bagaimana harus bersikap terhadap istri.

 

~Penghargaan Suami Terhadap Istri…~

Seorang suami yang salih, akan senantiasa teringat sabda Rasulullah  shollallohu ‘alaihi wa sallam  ,

“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya, dan aku adalah yang terbaik dari kalian bagi istriku.” (Riwayat Tirmidzi)

Karena itu, ia akan selalu berusaha mencontoh Rasulullah  shollallohu ‘alaihi wa sallam  , bersikap baik terhadap istri,  dan senantiasa menghargainya.

Apa saja bentuk penghargaan suami terhadap istrinya? Di antaranya:

1. Memberikan panggilan yang terbaik dan paling disukainya

Suami yang menyayangi serta mencintai istrinya, tentu tak ragu untuk mengungkapkan rasa sayangnya, di antaranya dengan memanggil istri menggunakan panggilan “sayang”, atau panggilan yang paling disukainya. Hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah – shollallohu ‘alaihi wa sallam  , yang senang memangil Ummul Mukminin Aisyah  rodhiyallohu ‘anha dengan “Humaira” (yang pipinya kemerah-merahan). Panggilan seperti “Adik” atau “Adinda” saja, insyaallah sudah cukup membuat seorang istri senang.

2. Mempergaulinya  dengan lemah lembut

Suami yang menghargai istrinya, akan berusaha mempergauli istrinya dengan lemah lembut, baik dalam sikap maupun tutur kata. Ia akan berusaha menjauhi sikap kasar dan keras terhadap istri. Kalau istrinya bersalah atau mengecewakannya, ia akan menasihatinya dengan santun. Tidak dengan makian, bentakan, dan bahkan tamparan di wajah.

3. Murah senyum/menunjukkan wajah ceria

Menunjukkan wajah yang ceria di hadapan istri, juga salah satu bentuk penghargaan suami terhadap istrinya. Istri yang selalu melihat senyum dan keceriaan di wajah suaminya, tentu akan lebih mudah untuk merasakan kebahagiaan. Berbeda bila suami selalu menunjukkan wajah cemberut. Istri akan merasa serba salah dan tak bahagia, karena merasa suaminya tak pernah bisa bahagia bersamanya.

4. Memberikan pujian

Pujian suami terhadap istri, juga salah satu bentuk penghargaan suami. Meskipun terlihat sepele, namun pujian yang tulus dari seorang suami bisa menimbulkan efek psikologis yang sangat besar bagi seorang istri. Misalnya mendongkrak semangat, menambah percaya diri, dan tentu saja membuat hatinya berbunga-bunga penuh bahagia. Pada dasarnya, setiap wanita senang dengan pujian, terlebih dipuji oleh belahan hati yang sangat dicintainya.

5. Memberikan hadiah

Hadiah adalah pembawa pesan cinta, serta menjadi salah satu bentuk penghargaan suami terhadap istri. Akan lebih berkesan, bila hadiah diberikan tanpa pemberitahuan lebih dulu sehingga menjadi kejutan yang membahagiakan.

6. Membantu istri mengurus rumah

Pekerjaan rumah tangga hampir tak ada habisnya. Suami yang baik, akan berusaha meringankan beban istrinya dalam mengurus rumah tangga. Misalnya membantu istri mencuci, menjemur pakaian, bersih-bersih dan semisalnya. Dengan demikian seorang istri akan merasa lebih dimengerti dan dihargai oleh suaminya.

7- Membantu istri mengurus anak

Penghargaan suami juga bisa diwujudkan dengan membantu istri mengurus anak. Mengerjakan berbagai pekerjaan rumah sekaligus mengurus anak, tentu sangat repot dan menguras energi. Terutama bagi yang anaknya masih batita (di bawah tiga tahun), apalagi  lebih dari satu. Ketika suami mau membantu mengurus anak, berarti ia telah mengurangi kerepotan istri, dan membuatnya lebih tenang dalam menyelesaikan berbagai macam pekerjaan rumah.

8. Memperhatikan kesehatannya

Suami yang menghargai istrinya, akan sangat memperhatikan kesehatan sang istri.  Ketika melihat istrinya sakit, maka ia akan segera berusaha mencarikan obatnya. Ia pun akan lebih perhatian terhadap istri, dan menyuruh istrinya banyak beristirahat.

9. Berbakti kepada kedua orangtuanya

Berbakti kepada orang tua istri atau mertua, juga merupakan wujud penghargaan suami kepada istrinya. Bakti suami tersebut akan membahagiakan istri serta kedua orangtuanya.

10. Menjalin silaturahim dengan kerabatnya.

Penghargaan suami terhadap istrinya, juga bisa ditunjukkan dengan menjalin silaturahim dari kerabat pihak istri, serta berbuat baik terhadap mereka.

 

~Kiat Meraih Penghargaan Suami…~

Bagaimana agar seorang istri bisa mendapatkan penghargaan dari suaminya?

Berikut ini beberapa kiatnya:

1. Menunaikan kewajiban-kewajibannya dengan baik

Untuk memperoleh penghargaan suami, seorang istri harus melaksanakan kewajiban-kewajibannya dengan baik. Di antaranya melayani suaminya di tempat tidur, menyiapkan makan dan minumnya, serta membereskan rumah serta mengurus anak-anak. Istri harus berusaha menyukai berbagai pekerjaan rumah tersebut, dan mengusir rasa bosan dan jenuh yang kadang hinggap di hati. Bagi wanita, memberikan pelayanan yang maksimal kepada suami dan mencari keridhaannya, akan memperoleh pahala yang sangat besar, menyamai pahala seorang lelaki yang keluar rumah untuk beribadah ataupun berjihad.

2. Bersikap lemah lembut

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam   bersabda kepada Ummul Mukminin Aisyah rodhiyallohu ‘anha  , “Wahai Aisyah, engkau mesti bersikap lembut dan jauilah sikap kasar dan kotor!” (Muttafaq ‘alaih)

Wasiat Rasulullah  shollallohu ‘alaihi wa sallam   ini hendaknya juga selalu diingat oleh para istri. Dengan kelemahlembutan, keridhaan dan penghargaan suami lebih mudah teraih.

3. Tidak banyak menuntut

Seorang suami tidak suka istri yang banyak menuntut ini dan itu di luar kemampuan suaminya. Karena itu sebaiknya seorang istri bersikap qanaah, menerima dan mensyukuri seberapa pun pemberian suami. Bila nafkah dari suami kurang mencukupi, istri bisa membantu mencari nafkah dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bisa dikerjakan di rumah atau sesuai dengan fitrah wanita. Misalnya menjahit, menulis membuat dan menitipkan makanan ke warung-warung dan semisalnya.

4. Pandai berterima kasih

Rasulullah  shollallohu ‘alaihi wa sallam   bersabda, “Allah Tabaaraka wa Ta’ala tidak sudi melihat seorang wanita yang tidak berterima kasih kepada suaminya padahal ia selalu butuh kepadanya.” (Riwayat an-Nasa’i)

Ucapan terima kasih juga merupakan penghargaan istri kepada suaminya. Suami yang merasa dihormati dan dihargai oleh istrinya, tentu akan semakin mencintai istrinya dan juga menghargainya.

5. Pandai menyenangkan hati suaminya

Ini adalah jalan pintas untuk mengambil hati suami dan mendapatkan penghargaannya. Yaitu dengan selalu berusaha menyenangkan hatinya dalam setiap kesempatan. Misalnya dengan berdandan yang anggun untuknya, membuatkan makanan kesukaannya, memelihara kebersihan dan kerapian rumah, dan sebagainya.

6. Pandai menghibur hati suami

Suami akan lebih menghargai istri yang bisa menghiburnya dan mau menjadi pendengar yang baik untuk menampung segala keluh kesahnya. Sebaliknya, ia akan sangat tersiksa bila istrinya malah sering membuat masalah dan membuatnya susah.

7. Menjadi sebaik-baik perhiasan dunia

Inilah jurus pamungkas untuk meraih penghargaan suami. Yaitu dengan menjadi sebaik-baik perhiasan dunia baginya. Yang menyenangkan bila dipandang, taat saat diperintah, dan bisa menjaga rumah dan hartanya saat dia bepergian.

 

Semoga kiat-kiat sederhana ini, bisa membantu Anda mendapatkan penghargaan dari suami / istri. (ummu husna)

*source : Majalahsakinah.com

Mencari Kasih Sayang Seorang Suami (1)

by admin Keluarga Sakinah

Oleh: Asy Syaikh Salim Al ‘Ajmy hafizhahullah

 

Sesungguhnya segala puji itu hanya bagi Allah. Kita memuji-Nya. Kita meminta pertolongan dan memohon ampunan kepada-Nya. Dan kita berlindung kepada-Nya dari keburukan diri dan kejelekan perbuatan kita. Siapa yang Allah beri hidayah, tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan siapa yang Allah sesatkan, tidak ada yang dapat memberinya hidayah. Dan aku bersaksi bahwa tiada sembahan yang haq selain Allah semata. Tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Amma ba’du.

 

Sesungguhnya sebenar-benar perkataan itu adalah kitab Allah. Dan sebaik-baik petunjuk itu adalah petunjuk Muhammad shollallaahu’alayhiwasallam. Dan seburuk-buruk perkara itu adalah yang diada-adakan. Dan setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah kesesatan. Wa ba’du.

 

Sungguh, ketika sebuah rumah terisi dan dipenuhi dengan kebahagiaan, ia laksana sebuah tanah lapang yang dihiasi oleh musim semi sehingga bermunculanlah tetumbuhan yang indah rupanya, dan terpancarlah darinya keelokan.

 

Sebagaimana keelokan tanah lapang adalah ketika diselimuti warna hijau yang matang kemerah-merahan, dan darinya terpancar mata-mata air yang mengucur deras, demikian pulalah keadaan suatu rumah yang dihuni oleh seorang wanita yang senantiasa menjalankan kewajibannya dan menetapi rumahnya, juga oleh seorang pria yang mengerti tanggungjawabnya dan memenuhi hak istri, anak-anak, dan anggota rumahnya.

 

Namun kalau engkau melihat ada ketidakberesan dalam menjalankan kewajiban dan masing-masing anggota keluarga lari dari tanggungjawabnya, rumah tersebut niscaya akan kembali seperti hamparan padang pasir tandus dan gersang, yang tidak ada cara untuk hidup di sana kecuali dengan sekian banyak marabahaya dan sedemikian sulitnya orang untuk bernafas.

 

Dan salah satu penderitaan yang dialami sekian banyak keluarga di zaman ini adalah berlepas dirinya para lelaki dari tanggungjawab mereka dan kurang perhatiannya mereka terhadap hak-hak anggota keluarga mereka. Mereka kikir dan enggan untuk mencurahkan waktu demi melayani keluarga dan untuk menunaikan amanah, sesuai dengan cara yang membuat Allah ridho kepada mereka, keluarganya akan berterimakasih kepadanya, dan dipuji oleh setiap orang yang berakal sehat.

 

Sungguh merupakan hal yang menyedihkan sekaligus menyesakkan dada, ketika engkau melihat keluarga-keluarga yang tidak ada pria di dalamnya. Angin duka menghamburkannya, dan badai kepedihan menggoncangnya, karena kehilangan para pria yang memiliki komitmen terhadap istri dan anak-anaknya.

 

Andai saja pria yang tak punya perhatian itu telah menghabiskan waktunya demi kebutuhan-kebutuhan mendesak berkaitan dengan masalah penghidupannya tentu itu masih dapat ditolerir. Akan tetapi ini melarikan diri mencari kesenangan pribadi dengan menelantarkan keluarganya.

 

Berapa banyak teriakan menggema dan rintihan lelah yang diperdengarkan para wanita yang memikul seluruh tanggung jawab gara-gara suami yang enak-enak dengan kesenangannya sendiri, dan tidak mau tahu keadaan keluarganya.

 

Pernah ada sekian banyak wanita yang mengunjungi keluarga Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam mengadukan perihal suami-suami mereka. Maka Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam bersabda: “Sungguh telah berkunjung sekian banyak wanita ke keluarga Muhammad, mengadukan perihal suami-suami mereka. Mereka (para suami yang diadukan -pent) itu bukanlah orang-orang yang baik di antara kalian”.

 

Orang yang memperhatikan keadaan masyarakat yang memprihatinkan ini akan melihat berbagai macam keanehan. Berbagai macam keanehan itu diungkapkan dalam perkataan seorang wanita yang ditanya tentang inti problem dalam rumah tangga, kemudian ia menjawab: para pria sudah pergi entah kemana.

 

Perhatikanlah, semoga Allah merahmati kalian. Seorang laki-laki keluar dari rumahnya ke tempat kerja. Dari pagi sampai siang. Kemudian ia kembali untuk tidur. Pada saat terbenam matahari, ia keluar ke tempat-tempat hiburan atau lokasi-lokasi bersantai, atau tempat-tempat nongkrong untuk menghabiskan waktu. Dan ia tidak pulang ke rumahnya kecuali ketika orang sudah pada tidur atau bahkan pada waktu pagi. Keadaan ini berulang setiap hari. Maka kapan orang itu akan memenuhi kewajibannya?!

 

Oleh karena itu engkau masih bisa melihat sekian lelaki yang membebankan tugas kepada istri-istri mereka. Mereka memaksa para wanita itu mengemudi mobil untuk menggantikan mereka mengerjakan segala sesuatunya.

 

Maka wanita itulah yang membiayai diri dan anak-anaknya. Dia pula yang belanja keperluan-keperluan mereka. Dia juga yang membawakan barang-barang rumah. Sampai berbagai makanan. Bahkan dia juga yang mengantar anak-anaknya ke rumah sakit sekalipun sudah larut malam.

 

Maka manakah peran seorang ayah?

 

Dan di manakah ia pada saat itu?

 

Sungguh dia sedang di tempat hura-hura dengan teman-teman yang tidak sedang melakukan kebaikan!

 

Dan lihatlah keputusasaan yang menyelinap masuk dalam diri sang anak yang ketika ia berbicara kepada ayahnya meminta sesuatu, sang ayah menjawab: bilang ke ibumu nanti ibu yang belikan. Atau: bilang ke supir saja, ayah sibuk!!

Sibuk dengan apa?!

 

Sungguh sikap tidak mau tahu ini telah menggiring banyak istri membuat-buat permasalahan. Karena dengan jelas ia merasa atau yakin bahwa dirinya sama sekali tidak hidup bersama seorang pria.

 

Dan memikul sedemikian banyak tanggungjawab menjadikan wanita merasa telah keluar dari fitrahnya. Sehingga mulailah ia berlaku seperti laki-laki. Dan semakin banyaklah permasalahan dan percekcokan.

 

Sungguh sikap tidak mau tahu seorang suami dengan kewajibannya terhadap anggota keluarganya merupakan suatu dosa besar. Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam bersabda: “Cukuplah menjadi dosa bagi seseorang, dengan menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggungannya”.

 

Sebagaimana ia harus bertanggung jawab karena telah membuat keluarganya tidak merasakan keamanan. Karena seorang istri membutuhkan sandaran kuat untuk berlindung. Dan anak-anak membutuhkan sosok yang dapat mengokohkan kelemahan mereka. Dan itu tidak dapat dilakukan kecuali oleh seorang pria.

 

Sebagaimana juga mereka akan kehilangan kestabilan emosi dan ketenangan jiwa karena ditinggal lama oleh sang ayah. Mereka pun tumbuh besar dengan keadaan seperti ini, dan terus berkembang sampai mereka menjadi anak-anak muda dan mewarisi sikap acuh-tak-acuh akibat apa yang ditanamkan oleh sang ayah yang lalai tersebut.

 

Aku tanyakan pada kalian: apa peran seorang suami kalau sang istri mengerjakan segala sesuatunya?

 

Dan sikap tidak mau tahu seperti ini, begitu juga pekerjaan-pekerjaan tak patut yang dilakukan oleh para wanita bersama para pria, dan keluarnya para wanita itu dengan terpaksa dari rumah mereka. Semua ini bisa terjadi tidak lain kecuali karena para lelaki yang lalai menjalankan tanggung jawab mereka.

 

Lihatlah apa yang dulu senantiasa dilakukan oleh sebaik-baik manusia, Rasulullah shollallaahu’alayhiwasallam..

Aisyah rodhiyallaahu’anha ditanya: apa yang senantiasa dilakukan oleh Rasulullah shollallaahu’alayhiwasallam di rumah istri beliau? Aisyah berkata: “Beliau senantiasa bekerja untuk keluarganya. Maka kalau sudah datang waktu sholat, beliaupun bangkit untuk sholat”.

 

Dan dalam suatu lafazh, Aisyah berkata: “Beliau selalu bekerja untuk keluarganya, menjahit pakaiannya, menambal sandalnya dan mengerjakan apa yang dikerjakan oleh para lelaki di rumah mereka”.

 

Dalam keterangan di atas terdapat dalil bahwa seorang laki-laki mengerjakan hal-hal yang dikerjakan oleh orang pada umumnya di rumah. Dan ini tidak lain adalah sebuah isyarat bahwa bekerjanya seorang pria untuk melayani keluarganya termasuk hal yang meninggikan kedudukannya dan sama sekali tidak menjatuhkan martabatnya.

 

Ini adalah sesuatu yang wajar dan sudah seharusnya. Bahkan sampai para ayah pun menyayangi dan lebih menyukai di antara putra-putra mereka yang senantiasa melayani mereka. Dan demi menjaga perasaannya, mereka bahkan tidak melakukan sesuatu kecuali dengan pertimbangan sang anak. Berbeda halnya dengan anak yang tak punya peran dan pengaruh apa-apa dalam keluarga.

 

(Sumber: Majalah Akhwat Vol.1/1431/2010 www.akhwat.or.id)

Meraih Kasih Sayang Dalam Rumah Tangga

Apa kabar sahabat..? Semoga curahan rahmat& hidayah Ar Rahman senantiasa menaungi kita semua sampai saat ini.. Namun apapun yang sedang kita alami, semoga kita selalu dirahmati sikap syukur dan dijauhkan dari sifat kufur, karena bagaimanapun juga nikmat dan kasih Nya teramat luar biasa untuk menjadikan kita manusia yang kufur. Berikut ini saya temukan lagi artikel menarik tentang rumah tangga dari sebuah milis keluarga sakinah, selamat membaca, semoga bermanfaat..

Setiap hari kita disuguhkan berbagai berita perceraian banyak pasangan. Perceraian kayaknya sudah menjadi hal biasa di negeri ini. Orang sudah tidak sungkan lagi mempertontonkan dan memberitakannya ke khalayak umum. Padahal, kalau kita renungi bersama, sesungguhnya pernikahan adalah sesuatu yang LUHUR yang harus dijaga keutuhannya, guna melanjutkan keturunan dan keharmonisan kehidupan jangka panjang.   Islam mengajarkan bahwa tujuan luhur pernikahan adalah mendapatkan ketentraman dan rasa kasih dan sayang, bukan sebaliknya, perseturuan dan ketidakharmonisan yang berujung perceraian.

 

Allah SWT menyatakan dalam QS Ar-Rum : 21 yaitu sebagai berikut:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”

Bicara mengenai kasih dan sayang dalam rumah tangga, Allah menggunakan kalimat “…dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang”. Dalam ayat ini Allah SWT menyatakan, bahwa Allah-lah yang menjadikan rasa kasih sayang antara suami istri. Manusia hanyalah berusaha sesuai dengan syariah, agar diberikan rasa kasih sayang itu.

Dalam bahasa Arab, istilah Kasih Sayang memiliki dua padanan kata yakni MAWADDAH dan HUBBUN. Kedua-duanya memiliki arti yang sama yakni kasih sayang / rasa cinta. Dalam ayat di atas, Allah SWT menggunakan kata MAWADDAH  untuk menggambarkan kasih sayang, bukan HUBBUN.  Apa sebenarnya perbedaan antara MAWADDAH dan HUBBUN ?. Ternyata perbedaannya adalah sebagai berikut:

  • HUBBUN adalah cinta yang timbul karena fisik atau materi semata, sementara MAWADDAH adalah cinta yang timbul atas dasar fisik dan non fisik (akhlaq, penampilan, sopan santun dan ilmu yang dimiliki). Cinta (HUBBUN) umurnya biasanya tidak langgeng sementara cinta MAWADDAH berumur selamanya.
  • HUBBUN adalah cinta tanpa tanggung jawab, sementara MAWADDAH adalah cinta yang disertai tanggung jawab. Cinta (MAWADDAH) bertanggung jawab dunia akhirat, cinta yang membuahkan anak dan bertanggung jawab mendidiknya.

Pertanyaan berikutnya, bagaimanakah agar kita bisa meraih kasih sayang yang MAWADDAH ?

Untuk menjawabnya, mari kita mencontoh kepada Nabi Muhammad saw selama beliau berinteraksi dalam keluarganya. Banyak teladan yang bisa kita ambil pelajaran, diantaranya sebagai berikut:

  • Nabi kadang-kadang suka membantu pekerjaan istrinya. Nabi kadang-kadang ikut menjahit bajunya sendiri dan menyambung tali sepatu
  • Nabi membuat suasana keluarga penuh dengan keceriaan, bercanda dan tawa bersama istri, anak dan cucu.
  • Nabi sangat mencintai dan mengasihi cucunya. Nabi kadang bermain kuda-kudaan yang dinaiki cucunya Hassan dan Hussain, dan membawanya ke masjid.

Demikian penjelasan singkat, bagaimana kita bisa meraih kasih sayang dalam rumah tangga. Menjadikan rumah tangga sebagai surga bukan neraka. Semoga kita diberi kekuatan untuk menjalaninya…Aamiin Ya Rabb..

 

*dikirim oleh : Hariono Fadhil di sebuah milis keluarga sakinah

Menjalin Cinta Abadi Dalam Rumah Tangga

Setiap orang yang telah berkeluarga, tentu menginginkan kebaikan dan kebahagiaan dalam kehidupannya bersama istri dan anak-anaknya. Hal ini sebagai perwujudan rasa cintanya kepada mereka, yang kecintaan ini merupakan fitrah yang Allah tetapkan pada jiwa setiap manusia. Allah Ta’ala berfirman,

{زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ}

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” (QS Ali ‘Imran:14).

 

Bersamaan dengan itu, nikmat keberadaan istri dan anak ini sekaligus juga merupakan ujian yang bisa menjerumuskan seorang hamba dalam kebinasaan. Allah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya.

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوّاً لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ}

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…” (QS At Taghaabun:14).

Makna “menjadi musuh bagimu” adalah melalaikan kamu dari melakukan amal shaleh dan bisa menjerumuskanmu ke dalam perbuatan maksiat kepada Allah Ta’ala[1].

 

~Salah Menempatkan Arti Cinta dan Kasih Sayang~

Kita dapati kebanyakan orang salah menempatkan arti cinta dan kasih sayang kepada istri dan anak-anaknya, dengan menuruti semua keinginan mereka meskipun dalam hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam, yang pada gilirannya justru akan mencelakakan dan merusak kebahagiaan hidup mereka sendiri.

Sewaktu menafsirkan ayat tersebut di atas, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata: “…Karena jiwa manusia memiliki fitrah untuk cinta kepada istri dan anak-anak, maka (dalam ayat ini) Allah Ta’ala memperingatkan hamba-hamba-Nya agar (jangan sampai) kecintaan ini menjadikan mereka menuruti semua keinginan istri dan anak-anak mereka dalam hal-hal yang dilarang dalam syariat. Allah telah memotivasi hamba-hamba-Nya untuk (selalu) melaksanakan perintah-perintah-Nya dan mendahulukan keridhaan-Nya…”[2].

Oleh karena itulah, seorang kepala keluarga yang benar-benar menginginkan kebaikan dalam keluarganya hendaknya menyadari kedudukannya sebagai pemimpin dalam rumah tangganya, sehingga dia tidak membiarkan terjadinya penyimpangan syariat dalam keluarganya, karena semua itu akan ditanggungnya pada hari kiamat kelak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“ألا كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته، … والرجل راع على أهل بيته وهو مسئول عنهم”

Ketahuilah, kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya … Seorang suami adalah pemimpin (keluarganya) dan dia akan dimintai pertanggungjawaban tentang (perbuatan) mereka[3].

 

~Cinta sejati yang abadi~

Seorang kepala keluarga yang benar-benar mencintai dan menyayangi istri dan anak-anaknya hendaknya menyadari bahwa cinta dan kasih sayang sejati terhadap mereka tidak diwujudkan dengan hanya mencukupi kebutuhan duniawi dan fasilitas hidup mereka. Akan tetapi yang lebih penting dari semua itu pemenuhan kebutuhan rohani mereka terhadap pengajaran dan bimbingan agama yang bersumber dari petunjuk al-Qur-an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah bukti cinta dan kasih sayang yang sebenarnya, karena diwujudkan dengan sesuatu yang bermanfaat dan kekal di dunia dan di akhirat nanti.

Karena pentingnya hal ini, Allah Ta’ala mengingatkan secara khusus kewajiban para kepala keluarga ini dalam firman-Nya,

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ}

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS at-Tahriim:6).

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu ketika menafsirkan ayat di atas berkata, “(Maknanya): Ajarkanlah kebaikan untuk dirimu dan keluargamu”[4].

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Memelihara diri (dari api neraka) adalah dengan mewajibkan bagi diri sendiri untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta bertaubat dari semua perbuatan yang menyebabkan kemurkaan dan siksa-Nya. Adapun memelihara istri dan anak-anak (dari api neraka) adalah dengan mendidik dan mengajarkan kepada mereka (syariat Islam), serta memaksa mereka untuk (melaksanakan) perintah Allah. Maka seorang hamba tidak akan selamat (dari siksaan neraka) kecuali jika dia (benar-benar) melaksanakan perintah Allah (dalam ayat ini) pada dirinya sendiri dan pada orang-orang yang dibawa kekuasaan dan tanggung jawabnya”[5].

Demikian juga dalam hadits yang shahih ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma memakan kurma sedekah, padahal waktu itu Hasan radhiyallahu ‘anhuma masih kecil, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hekh hekh” agar Hasan membuang kurma tersebut, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa kita (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keturunannya) tidak boleh memakan sedekah?”[6].

Imam Ibnu Hajar menyebutkan di antara kandungan hadits ini adalah bolehnya membawa anak kecil ke mesjid dan mendidik mereka dengan adab yang bermanfaat (bagi mereka), serta melarang mereka melakukan sesuatu yang membahayakan mereka sendiri, (yaitu dengan) melakukan hal-hal yang diharamkan (dalam agama), meskipun anak kecil belum dibebani kewajiban syariat, agar mereka terlatih melakukan kebaikan tersebut[7].

Kemudian, hendaknya seorang kepala keluarga menyadari bahwa dengan melaksanakan perintah Allah Ta’ala ini, berarti dia telah mengusahakan kebaikan besar dalam rumah tangga tangganya, yang dengan ini akan banyak masalah dalam keluarganya yang teratasi, baik masalah di antara dia dengan istrinya, dengan anak-anaknya ataupun di antara sesama keluarganya. Bukankah penyebab terjadinya bencana secara umum, termasuk bencana dalam rumah tangga, adalah perbuatan maksiat manusia? Allah Ta’ala berfirman,

{وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ}

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan (dosa)mu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (QS asy-Syuura:30).

Inilah makna ucapan salah seorang ulama salaf yang mengatakan, “Sungguh (ketika) aku bermaksiat kepada Allah, maka aku melihat (pengaruh buruk) perbuatan maksiat tersebut pada tingkah laku istriku…[8].

Dan barangsiapa yang mengharapkan cinta dan kasih sayangnya terhadap keluarganya kekal abadi di dunia sampai di akhirat nanti, maka hendaknya dia melandasi cinta dan kasih sayangnya karena Allah semata-semata, serta mengisinya dengan saling menasehati dan tolong menolong dalam ketaatan kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

{الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ}

Orang-orang yang berkasih sayang pada waktu itu (di akhirat) menjadi musuh satu sama lainnya, kecuali orang-orang yang bertaqwa” (QS az-Zukhruf:67).

Ayat ini menunjukkan bahwa semua jalinan cinta dan kasih sayang di dunia yang bukan karena Allah maka di akhirat nanti berubah menjadi kebencian dan permusuhan, dan yang kekal abadi hanyalah jalinan cinta dan kasih sayang karena-Nya[9].

Lebih daripada itu, dengan melaksanakan perintah Allah ini seorang hamba –dengan izin Allah Ta’ala– akan melihat pada diri istri dan anak-anaknya kebaikan yang akan menyejukkan pandangan matanya dan menyenangkan hatinya. Dan ini merupakan harapan setiap orang beriman yang menginginkan kebaikan bagi diri dan keluarganya. Oleh karena itulah Allah Ta’ala memuji hamba-hamba-Nya yang bertakwa ketika mereka mengucapkan permohonan ini kepada-Nya, dalam firman-Nya,

{وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً}

Dan (mereka adalah) orang-orang yang berdoa: “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyejuk (pandangan) mata (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa” (QS al-Furqan:74).

Imam Hasan al-Bashri ketika ditanya tentang makna ayat di atas, beliau berkata, “Allah akan memperlihatkan kepada hambanya yang beriman pada diri istri, saudara dan orang-orang yang dicintainya ketaatan (mereka) kepada Allah. Demi Allah tidak ada sesuatupun yang lebih menyejukkan pandangan mata seorang muslim dari pada ketika dia melihat anak, cucu, saudara dan orang-orang yang dicintainya taat kepada Allah Ta’ala[10].

Akhirnya, kami menutup tulisan ini dengan berdoa kepada Allah agar Dia senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua dalam menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya pada diri kita sendiri maupun keluarga kita.

Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyejuk (pandangan) mata (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa…

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 25 Rabi’ul akhir 1430 H

 

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA

Artikel muslim.or.id

 


[1] Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (4/482).

[2] Taisiirul Kariimir Rahmaan (hal. 637).

[3] HSR al-Bukhari (no. 2278) dan Muslim (no. 1829).

[4] Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam “al-Mustadrak” (2/535), dishahihkan oleh al-Hakim sendiri dan disepakati oleh adz-Dzahabi.

[5] Taisiirul Kariimir Rahmaan (hal. 640).

[6] HSR al-Bukhari (no. 1420) dan Muslim (no. 1069).

[7] Fathul Baari (3/355).

[8] Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitab “ad-Da-u wad dawaa’” (hal. 68).

[9] Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (4/170).

[10] Dinukil oleh Ibnu Katsir dalam tafsir beliau (3/439).

Istri Qona’ah…

Alhamdulillaah…

Tadi malam saya mendapatkan satu pelajaran lagi tentang sifat qona’ah seorang istri. Setelah banyak kisah tentang wanita-wanita yang qona’ah sampai kepada saya. Baik dari kalangan shahabiyah -radliyallaahu ‘anhunna-, maupun dari teman dan sahabat saya.

Tiap kali mendengar tentang seorang wanita yang berhasil mendidik jiwanya agar mudah untuk merasa cukup, maka tiap kali itu pula hati ini bergetar.. Kadang ada air mata yang tak dapat terbendung. Entahlah! Hanya merasa bahwa mereka begitu luar biasa di mata saya. Dalam zaman yang serba hedonis ini, ada sebentuk kepasrahan dalam hati mereka atas apa yang Allah berikan. Ridha. Tidak mengeluh. Bersabar…

Teman saya itu masih terlalu muda untuk menikah. Usianya masih belasan. Tapi ia berani untuk menyelamatkan agama dan kehormatannya dengan cara yang agung: menikah. Ia tahu sang suami belum punya pekerjaan tetap. Tapi ia yakin bahwa sang suami tidak akan menyia-nyiakan dirinya. Mulai dari berjualan gorengan, sampai jadi kuli bangunan. Apa sajalah asalkan halal. Asalkan dapat menafkahi anak dan istri. Pernah sang suami bekerja di proyek bilangan Salemba. Karena tidak punya kendaraan, mau naik angkot pun biaya pas-pasan. Akhirnya ditempuh juga perjalanan itu, Cibubur-Salemba dengan bersepeda. Setiap hari pulang pergi. Subhanallaah..

Mengapa dia rela berpayah-payah seperti itu? Karena ia sadar kewajibannya sebagai kepala keluarga. Dan bagaimanakah sikap sang istri? Dia senantiasa tersenyum dalam kesabaran. Walau terpaksa tinggal dengan mertua, walau tempat tinggalnya sangat tidak layak dikatakan sebagai ‘rumah’, tapi lebih pantas disebut ‘bedeng’, walau penghasilan suami pas-pasan.. Tapi ketaqwaan pada Allah menahannya dari berkeluh kesah dan meminta-minta. Ia tampak bahagia dengan suami dan kedua anaknya yang masih kecil-kecil..bahagia dengan kehidupannya. Walau ia pernah bercerita bahwa ia tidak pernah membelikan baju untuk anaknya seharga lebih dari dua puluh ribu…..

Astaghfirullah. Saya merasa amat malu pada diri sendiri. Bukankah yang saya terima ini sudah lebih dari cukup? Patutkah saya mengeluh? Apa lagi yang kurang? Tidakkah semua ini patut disyukuri? Fabi’ayyi ‘alaai rabbikuma tukadzdziban? Nikmat Rabb-Mu manakah yang kamu dustakan?

Ada lagi seorang kawan yang suaminya seorang tukang permak baju keliling. Anaknya sudah dua, yang paling besar sudah masuk SD. Yang kecil baru 13 bulan. Seringkali diuji dengan anaknya yang sakit-sakitan. Tampak kesabaran menghiasi wajah sang istri. Tak ada keluhan. Seolah tanpa beban. Karena ia yakin..Allah-lah sebaik-baik penjaga dan pemberi rizqi. Qaddarallaahu wa maa sya’a fa’al…

Suami mana yang tidak teduh hatinya memiliki istri-istri yang begitu sabar dan tabah dalam mengayuh biduk bersamanya?

Mereka (para suami) pantaslah bersyukur. Di saat banyak wanita yang menuntut tambahan harta dunia, bahkan mendorong suaminya untuk menghalalkan segala cara. Hanya untuk memuaskan rasa dahaga yang tidak akan pernah tuntas.

Tapi istri shalihah selalu menyejukkan mata suaminya dengan kesyukuran dan kesabarannya…

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah..” (Riwayat Muslim)

“Jika seorang wanita mengerjakan shalat lima waktu, berpuasa satu bulan (Ramadhan) penuh dan mentaati suaminya, maka hendaklah ia memasuki dari pintu Surga manapun yang ia kehendaki..” (Riwayat Ahmad dan ath-Thabrani).

Terimalah Aku Apa Adanya…

Kesan terbaik yang tertangkap dari rumah tangga Nabawi adalah terjaganya hak dan kewajiban dalam hubungan suami istri. Bahkan hak itu tetap diperoleh Khadijah dari Rasulullah meski Khadijah telah wafat hingga membuat Aisyah cemburu. Padahal Aisyah tak pernah berjumpa dengannya. Hal itu semua karena Rasulullah sering mengingat kebaikan dan jasanya.

Keharmonisan dalam rumah tangga akan dengan sendirinya terwujud jika pihak suami atau istri tahu hak dan kewajiban masing-masing. Rasa kasih dan sayang sebagai fitrah Allah di antara pasangan suami dan istri akan bertambah seiring dengan bertambahnya kebaikan pada keduanya.

Sebaliknya, akan  berkurang seiring menurunnya kebaikan pada keduanya. Sebab secara alami, jiwa mencintai orang yang memperlakukannya dengan berbuat baik dan memuaskan untuknya, termasuk melaksanakan hak dan kewajiban suami istri.

Kita melihat bagaimana al-Qur ’an membangkitkan pada diri masing-masing pasangan suami istri suatu perasaan bahwa masing-masing mereka saling membutuhkan satu sama lain dan saling menyempurnakan kekurangan. Ibaratnya wanita laksana ranting  dari laki-laki dan laki-laki adalah akar bagi wanita. Karena itu akar selalu membutuhkan ranting dan ranting selalu membutuhkan akar.

Sebagaimana firman Allah dalam al-A ’raf 189,

“Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya.”

Karena itu, pernikahan tak hanya menyatukan dua manusia berbeda tapi juga  menyatukan dua perbedaan, kelebihan dan kekurangan sepasang anak manusia. Dimana masing-masing akan saling mengisi dan melengkapi kekurangan satu dengan yang lain. Sementara menjadikan kelebihan masing-masing untuk merealisasikan cita-cita pernikahan sesungguhnya.

“Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. ” (al Baqarah : 187).

Dengan memahami hal ini, kehidupan rumah tangga akan tenteram. Dan tenang berlayar, sangat mustahil ditemukan sepasang suami istri yang sempurna segala sesuatunya. Yang bisa dilakukan adalah dengan jalan saling memahami dan menghargai satu sama lain. Menerima apa adanya kekurangan atau kelebihan pasangan. Tidak membandingkan pasangan kita dengan yang lain. Karena hal-hal seperti ini tidak akan membuat nyaman hubungan namun hanya akan menjadikan kita makin sensitif dengan segala perbedaan. Dan sekali lagi memaafkan semua kekurangan pasangan adalah lebih baik.

Hargailah segala kelebihannya. Dan berterima kasihlah atas semua yang telah dikerjakan dan diberikan pasangan pada kita..

Insyaallah ini akan membuat makin manisnya hubungan dengan pasangan.  Mungkin ada hal-hal yang tak kita sukai pada pasangan  kita, namun bukanlah masih ada hal-hal baik yang kita sukai dan lihat ada padanya? Kita harus bijaksana menyikapi hal ini. Kita tak  perlu berpura-pura dan menutupi kekurangan kita hanya karena takut tak sempurna di hadapan si dia. Karena bisa saja justru hal ini akan menyeret kita pada hal-hal berbahaya.

Misalnya saja dengan berbohong menjanjikan ini dan itu serta janji setinggi langit. Padahal kita tahu tak akan bisa memenuhinya.  Jika pasangan tahu tentu ia akan marah dan jengkel hingga membuahkan pertengkaran dan hal-hal buruk lain. Bukanlah lebih baik  kita selalu tampil apa adanya, karena itu tak akan membebani kita ? Sungguh, jika si dia benar-benar mencintai kita tentu dia akan menerima kita apa adanya. Mau  menerima kekurangan dan kelebihan kita. Tanpa basa-basi. Yang perlu  diingat kita selalu  berusaha memberikan  yang terbaik untuknya, semampu kita. Insyaallah di rumah kita..

 

**Source: Majalah Nikah.

Dari Ibumu, untuk Engkau Wahai Ukhti Muslimah yang akan Menikah, Simaklah..

Wahai putriku, engkau adalah perempuan yang paling pandai memakai wewangian. Oleh karena itu perliharalah dua perkataan : Nikahlah dan pakailah wewangian dengan menggunakan air hingga wangimu seperti bau yang ditimpa air hujan.

“Wahai anak perempuanku!

Bahwasanya jika wasiat ditinggalkan karena suatu keistimewaan atau keturunan maka aku menjauh darimu. Akan tetapi wasiat merupakan pengingat bagi orang yang mulia dan bekal bagi orang yang berakal. Wahai anak perempuanku! Jika seorang perempuan merasa cukup terhadap suami lantaran kekayaan kedua orang tuanya dan hajat kedua orang tua kepadanya, maka aku adalah orang yang paling merasa cukup dari semua itu. Akan tetapi perempuan diciptakan untuk laki-laki dan laki-lakai diciptakan untuk perempuan.

Wahai anakku, inilah kenyataan yang engkau hadapi dan inilah masa depanmu. Inilah keluargamu, di mana engkau dan suamimu bekerja sama dalam mengarungi bahtera rumah tannga. Adapun bapakmu, itu dulu. Sesungguhnya aku tidak memintamu untuk melupakan bapakmu, ibumu dan sanak saudaramu, karena mereka tidak akan melupakanmu selamanya wahai buah hatiku. Bagaimana mungkin seorang ibu melupakan buah hatinya. Akan tetapi aku memintamu untuk mencintai suamimu dan hidup bersamanya, dan engkau bahagia dengan kehidupan bersamanya.

Wahai putriku yang belia, ketahuilah bahwasannya keagungan seorang suami yang paling besar adalah kemuliaan yang engkau persembahkan untuknya, dan kedamaian yang paling besar baginya adalah perlakuanmu yang paling baik. Ketahuilah, bahwasanya engkau tidak merasakan hal tersebut, sehingga engkau mempengaruhi keinginannya terhadap keinginanmu dan keridhaannya terhadap keridhaanmu (baik terhadap hal yang engkau sukai atau yang engkau benci). Jauhilah menampakkan kebahagiaan dihadapannya jika ia sedang risau, atau menampakkan kesedihan tatkala ia sedang gembira.

Sungguh hiasilah hari-hari di rumahmu kelak dengan sifat qana’ah dan mu’asyarah, melalui perhatian yang baik dan ta’at pada perintah suamimu. Sesungguhnya pada qana’ah terdapat kebahagiaan qalbu, dan pada ketaatan terdapat keridhaan Allah ta’ala. Buatlah janji di hadapannya dan beritrospeksilah di hadapannya juga. Jangan sampai ia memandang jelek dirimu, dan jangan sampai ia mencium darimu kecuali wewangian.

“Wahai anakku, jangan kamu lupa dengan kebersihan badanmu, karena kebersihan badanmu menambah kecintaan suamimu padamu. Kebersihan rumahmu dapat melapangkan dadamu, memperbaiki hubunganmu, menyinari wajahmu sehingga menjadikanmu selalu tampak cantik, dicintai, serta dimuliakan di sisi suamimu. Selain itu disenangi keluargamu, kerabatmu, para tamu, dan setiap orang yang melihat kebersihan badan dan rumah akan merasakan ketentraman dan kesenangan jiwa”

Wahai, putriku yang sebentar lagi akan bersuami, perhatikanlah waktu makan suamimu dan tenangkanlah ia tatkala tidur, karena panas kelaparan sangat menjengkelkan dan gangguan tidur pun menjengkelkan. Jagalah harta dan keluarganya. Dikarenakan kekuasaan dalam harta artinya pengaturan keuangan yang bagus, dan kekuasaan dalam keluarga artinya perlakuan yang baik. Jangan engkau sebarluaskan rahasianya, serta jangan engkau langgar peraturannya. Jika engkau menyebarluaskan rahasianya berarti engkau tidak menjaga kehormatannya. Jika engkau melanggar perintahnya berarti engkau merobek dadanya. (Ahkamu An-Nisa karangan Ibnu Al-Jauzi)

Ingatlah selalu wahai putriku manis, bahwasanya laki-laki memiliki kata-kata manis nan indah yang lebih sedikit dari pada kamu, yang dapat membahagiakannya. Janganlah engkau membuatnya berperasaan bahwa pernikahan ini menyebabkanmu merasa jauh dari keluarga dan sanak kerabatmu. Sesungguhnya perasaan ini sama dengan yang ia rasakan, karena dia juga meninggalkan rumah orang tuanya, dan keluarga karena dirimu. Tetapi antara dia dan kamu ada kenyataan yang berbeda, perempuan selalu rindu kepada keluarga dan tempat ia dilahirkan, berkembang, besar dan menimba ilmu pengetahuan. Akan tetapi sebagai seorang isteri ia harus kembali kepada kehidupan baru. Dia harus membangun hidupnya bersama laki-laki yang menjadi suami dan perlindungannya, serta bapak dari anak-anaknya. Inilah duniamu yang baru. Tempat di mana, engkau menjadi bagian tak terpisahkan darinya.

Dan ketahuilah gadis ku yang cantik,

. Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib mewasiatkan anak perempuannya:

“Jauhilah olehmu perasaan cemburu, karena rasa cemburu adalah kunci jatuhnya thalak. Juga jauhilah olehmu banyak mengeluh, karena keluh kesah menimbulkan kemarahan, dan hendaklah kamu memakai celak mata karena itu adalah perhiasan yang paling indah dan wewangian yang paling harum”.

Dan ketahuilah pula, wahai putriku. Dengan ini, engkau telah keluar dari sarang yang engkau tempati menuju hamparan yang tidak engkau ketahui. Menuju seorang ikhwan yang engkau belum merasa rukun dengannya. Oleh karena itu jadilah engkau sebagai bumi baginya, maka dia akan menjadi langit untukmu. Jadilah engkau hamparan baginya, niscaya ia akan menjadi tiang untukmu. Jadilah engkau hamba sahaya baginya, maka niscaya ia akan menjadi hamba untukmu. Janganlah engkau meremehkannya, karena niscaya dia akan membencimu dan janganlah menjauh darinya karena dia akan melupakanmu. Jika dia mendekat kepadamu maka dekatkanlah dirimu, dan jika dia menjauhimu maka menjauhlah darinya. Jagalah hidungnya, pendengarannya, dan matanya. Janganlah ia mencium sesuatu darimu kecuali wewangian dan janganlah ia melihatmu kecuali engkau dalam keadaan cantik.

Ketahuilah wahai anakku. Ibu menulis bait ini dengan uraian air mata, bercampur senyum bahagia. Sudah saatnya engkau menerima untuk menempuh hidup baru. Kehidupan di mana ibu, bapak, atau salah seorang dari saudara kandungmu tidak mempunyai tempat di dalamnya. Dalam kehidupan tersebut engkau menjadi teman bagi suamimu, yang tidak menginginkan seorang pun ikut campur dalam urusanmu.

Jadilah istri untuknya wahai anakku, dan jadilah ibu untuk anak-anaknya. Kemudian jadikanlah ia merasakan bahwa engkau adalah segala-galanya dalam kehidupannya, dan segala-galanya di dunia.

Semoga bermanfaat…

-Al Fawaid-

Sumber: http://mahabbahtedja.wordpress.com/2008/10/15/dari-ibumu-untuk-engkau-wahai-ukhti-muslimah-yang-akan-menikah-simaklah/

« Older entries